News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Jiwa Abadi Soekarno

Penulis: Hasanudin Aco
Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

I WAYAN SUDIRTA - Anggota Komisi III DPR Fraksi PDI Perjuangan, Dr. I Wayan Sudirta, SH., MH,

Meskipun Bung Karno mengambil inspirasi konsep nasionalisme dari pemikiran Ernest Renan, nasionalisme Indonesia sesungguhnya memiliki pijakan historis yang jauh lebih kokoh.

Landasan ini tak hanya baru muncul pada abad ke-19, melainkan telah tertanam sejak era keemasan Majapahit. 

Melalui karya-karya seperti Mpu Tantular, bangsa ini tidak hanya mengembangkan strategi politis untuk mengelola pluralisme agama, tetapi bahkan telah merumuskan landasan teologis yang jauh lebih mendalam.

Bung Karno sendiri, dalam perjalanan spiritualnya, bisa dibilang "berdialog spiritual" dengan Mpu Tantular. Dari dialog inilah, Bung Karno mengembangkan kesadaran yang kini sering disebut oleh para teolog sebagai philosophia perennis.

Ini adalah keyakinan mendalam bahwa kebenaran abadi sejatinya berada di pusat semua tradisi spiritual, tak peduli apakah itu disebut sanatha dharma dalam Hinduisme, al-hikmah al-khalidah dalam sufisme Islam, atau logos spermatikos (benih sabda Ilahi) dalam pemikiran patristik Kristen.

Esensinya adalah bahwa kebenaran itu satu dan tak terbagi, meskipun ia menjelma dalam simbol-simbol yang secara lahiriah (eksoteris) tampak berbeda-beda. 

Prinsip kasunyatan (kebenaran sejati) dari Mpu Tantular ini, oleh Bung Karno, diterjemahkan menjadi “Ketuhanan yang berkebudayaan” atau” Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila.” Seiring dengan itu, seloka Bhinneka Tunggal Ika pun dibaptiskan ke dalam lambang negara. 

Dengan sila pertama ini, Bung Karno secara cerdas membebaskan bangsa Indonesia dari "keharusan menantikan pesawat penyelamat dari Moskwa atau seorang kalifah dari Istanbul." Artinya, Indonesia tidak menjadi negara Islam, karena hal itu akan bertentangan dengan realitas kemajemukan bangsa.

Namun, Indonesia juga bukan negara sekuler, sebab hal itu akan berlawanan dengan detak jantung sanubari rakyatnya yang sangat religius. Ini adalah bukti genius Bung Karno dalam meramu ideologi yang secara fundamental sesuai dengan karakter dan keberagaman Indonesia.

Perjalanan Perjuangan dan Pengorbanan Bung Karno

Jauh sebelum ia menjadi arsitek bangsa, Bung Karno muda telah menapaki jalan perjuangan yang penuh liku. Gagasan-gagasan visionernya tentang kemerdekaan, nasionalisme, dan persatuan Indonesia telah tumbuh subur sejak usia belia.

Ia adalah seorang pemikir yang cemerlang, menggali inspirasi dari berbagai ideologi dunia, namun selalu menyaringnya melalui lensa keindonesiaan.

Pemikiran-pemikirannya, seperti Marhaenisme yang merangkul nasib rakyat kecil, atau konsep Trisakti yang menuntut berdikari dalam politik, ekonomi, dan budaya, adalah bukti nyata kedalaman intelektualnya. Namun, perjalanan ini tidaklah mudah.

Sejak masa mudanya, Bung Karno telah merasakan pahitnya penindasan kolonial. Penjara dan pengasingan menjadi bagian tak terpisahkan dari perjuangannya. Ia pernah dibuang ke Ende, Flores, pada tahun 1934, dan kemudian ke Bengkulu pada tahun 1938.

Di tempat-tempat terpencil itu, jauh dari pusat pergerakan, ia tetap gigih menggembleng diri, merenungkan nasib bangsanya, dan merumuskan strategi perjuangan. 

Halaman
1234
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini