Hery Budiawan
- Dosen Program Studi Magister Pendidikan Seni, Universitas Negeri Jakarta
- Komponis dan Dosen, Pendidikan Musik dan Magister Pendidikan Seni, Universitas Negeri Jakarta.
Ketika spiritualitas dikemas dalam logika industri, seniman dihadapkan pada dilema antara panggilan hati dan tuntutan zaman.
TRIBUNNEWS.COM - Menjelang perayaan keagamaan, ruang dengar masyarakat Indonesia berubah warna. Lagu-lagu bernuansa religi kembali mengalun di televisi, radio, pusat perbelanjaan, hingga platform digital.
Dalam suasana itu, musik menjadi bahasa kolektif untuk menumbuhkan rasa syukur dan ketenangan batin. Namun, ketika hari raya berlalu, gema spiritual itu seolah ikut menghilang. Lagu-lagu religi berhenti diputar, dan para seniman yang mengabdikan diri di ranah ini kembali kehilangan panggungnya.
Fenomena ini memperlihatkan kenyataan bahwa musik religi sering diperlakukan sebagai musik musiman, hadir ketika permintaan pasar meningkat, lalu redup begitu momentum berlalu.
Padahal, dibaliknya ada para musisi yang berkarya bukan sekadar untuk mencari nafkah, melainkan menjalankan panggilan jiwa. Mereka menanggung beban ganda: menjaga keikhlasan berkarya di tengah tuntutan ekonomi dan komersialisasi spiritualitas.
Dalam konteks yang lebih luas, ini bukan sekadar persoalan industri hiburan, tetapi juga soal bagaimana masyarakat memaknai spiritualitas dalam kebudayaan modern.
Musik religi menjadi cermin relasi manusia dengan yang Ilahi—relasi yang kini terancam menjadi konsumsi musiman, bukan kesadaran yang berkelanjutan.
Roh yang Tersandera Pasar
Filsuf Jerman Friedrich Schleiermacher mendefinisikan religiusitas sebagai “rasa ketergantungan mutlak kepada Yang Ilahi.” Dalam seni, rasa ini mewujud dalam harmoni bunyi, lirik, dan getaran batin yang melampaui logika pasar.
Namun kini, spiritualitas dalam musik sering dikemas ulang menjadi produk yang mengikuti algoritma digital. Ketika jumlah klik dan penonton menjadi ukuran keberhasilan, dimensi transendental berubah menjadi statistik komersial.
Seniman musik religi berada di tengah tarik-menarik antara iman dan industri. Banyak di antara mereka hanya mendapat kesempatan berkarya pada momentum keagamaan tertentu.
Setelah itu, sepi. Realitas ini membuat spiritualitas seolah memiliki masa kadaluwarsa. Padahal, seperti doa, musik religi semestinya hidup di setiap waktu—bukan karena momentum, tetapi karena makna.
Industri hiburan memang memiliki logikanya sendiri. Ia menuntut efisiensi dan profit, sementara seni menuntut kejujuran dan kesetiaan rasa.
Ketegangan inilah yang sering menjadikan musik religi kehilangan ruh, karena harus menyesuaikan diri dengan tren dan selera yang serba cepat.
Baca tanpa iklan