Rijadh Djatu Winardi
- Direktur Ekonomi Evident Institute
- Dosen di Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM
RIwayat Pendidikan
- Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM
- Sheffield Hallam University
- University of Glasgow Adam Smith Business School
Lembaga Peneliti Independen menilai kemarahan perusahaan penyedia indeks pasar saham, data, dan analisis riset investasi global (Morgan Stanley Capital International (MSCI) justru bagus untuk ekosistem pasar modal di Indonesia.
Saya menilai keputusan MSCI tersebut ibarat obat yang pahit namun menyehatkan karena bertujuan mengurangi index turnover sekaligus menekan risiko investability di pasar Indonesia.
Mereka memberi ruang bagi otoritas domestik untuk menghadirkan perbaikan, khususnya dalam aspek transparansi. Dan ini kan bukan kali pertama MSCI memberikan masukan bagi pasar modal Indonesia. Di bulan Oktober 2025, MSCI sudah meminta perbaikan data emiten.
Saat itu, MSCI meminta agar pelaku pasar terkait penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan dalam menghitung free float saham emiten.
Permintaan itu disampaikan secara terbuka. Jika sekarang tidak dipatuhi ya wajar mereka ngambek. Dan ngambeknya kan dilakukan secara terbuka dan jelas. Jadi ketika ada rencana pembekuan sementara sejumlah perubahan indeks untuk saham-saham Indonesia. Harusnya kita tak perlu kaget.
Seperti diketahui MSCI pada 28 Januari 2026 mengumumkan sejumlah hal a.l. pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF), pembekuan perubahan pada Number of Shares (NOS), penundaan penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) dan Pembekuan perpindahan saham antar segmen indeks, termasuk dari Small Cap ke Standard.
MSCI sebagai lembaga pemeringkat menyoroti sejumlah hal seperti kurangnya transparansi struktur kepemilikan saham, kekhawatiran adanya perdagangan terkoordinasi dan potensi gangguan dalam pembentukan harga yang wajar.
Secara tak langsung MSCI menyoroti fenomena saham gorengan di pasar modal kita. Hal yang sebetulnya sudah menjadi perhatian banyak pihak karena rentan membuat penurunan tingkat kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia.
Kebijakan MSCI berdampak secara langsung terhadap sejumlah saham milik konglomerat dan Big Caps a.l Kelompok bisnis milik Prajogo Pangestu yaitu Barito yakni PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang turun hingga Auto Reject Bawah (ARB) 14,81 persen ke Rp2.300 sementara PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) melemah hingga 11,84 persen ke Rp8.375.
Kemudian bisnis milik Prajogo Pangestu yang lain Grup Chandra Asri yakni PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) terkoreksi 5 persen ke Rp6.650 sedangkan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) anjlok 12,14 persen ke Rp1.230.
Kelompok Bakrie, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turun 11,58 persen ke Rp1.145 sedangkan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah 14,53% ke Rp294, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) turun 9,42% ke Rp125 dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menyentuh ARB 14,97% ke Rp1.420.
Kelompok ‘Happy’ Hapsoro Sukmonohadi yakni PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) turun ARB 15% ke Rp1.445, PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) melemah 15% ke Rp4.590, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) anjlok 14,97% ke Rp6.250.
Kelompok Sugianto Kusuma alias Aguan yakni PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) terkoreksi 14,89% ke Rp9.575 dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) turun 14,68% ke Rp6.250
Baca tanpa iklan