Dalam hal ini, selaras dengan konsep ashabiyah dari Ibn Khaldun yang menekankan pentingnya solidaritas sosial dalam menentukan kuat atau lemahnya suatu peradaban. Jika solidaritas melemah, maka peradaban pun perlahan bisa mengalami kemunduran.
Indonesia adalah negara yang sangat beragam. Perbedaan suku, budaya, dan latar belakang sosial adalah kenyataan yang tidak bisa dipisahkan dari identitas bangsa. Karena itu, solidaritas bukan hanya konsep teoritis, melainkan kebutuhan nyata. Persatuan tidak cukup dibangun melalui slogan atau seremoni tahunan, tetapi melalui rasa saling percaya yang tumbuh dari keterbukaan dan kejujuran.
Di usia yang akan menginjak 81 tahun ini, harapan masyarakat tentu tidak kecil. Kita semua ingin Indonesia tidak hanya kuat secara simbolik, tetapi juga benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Untuk sampai ke sana, transparansi dan partisipasi publik harus menjadi kebiasaan, bukan pengecualian. Solidaritas sosial hanya akan tumbuh jika ada kepercayaan, dan kepercayaan hanya bisa dijaga dengan keterbukaan.
Sebagai generasi muda, sangat penting untuk terus mengawal kebijakan secara kritis namun tetap konstruktif. Sebab pada akhirnya, masa depan Indonesia bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kita bersama.
(*)
Baca tanpa iklan