News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Iran Vs Amerika Memanas

Perang AS–Israel vs Iran dalam Timbangan Moralitas dan Hukum Humaniter

Editor: Glery Lazuardi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SERANGAN MILITER Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu menjadi objek telaah menarik untuk membaca secara mendalam moralitas perang yang dianut oleh para pemimpin AS dan Israel, termasuk moralitas perang yang dianut oleh kedua bangsa tersebut.

Moral dan perang adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan, meskipun bagi kalangan penganut pasifisme-pecinta perdamaian dan penolak perang, perang adalah bentuk kegagalan moral dalam interaksi antarmanusia dan antarbangsa.

Moralitas perang menjadi lempeng penting dalam kebijakan sebuah negara untuk melancarkan peperangan terhadap negara lainnya atau subjek hubungan internasional lainnya.

Moralitas perang yang buruk hanya menuntun sebuah negara ke arah jurang kehancuran-menang jadi arang dan kalah jadi abu.

Sedangkan moralitas perang yang dibangun dari sebuah cara pandang dan objektif untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan muruah sebuah bangsa sebagaimana yang dipraktikkan oleh Bangsa Persia-Iran saat ini, akan menjadi legasi sejarah bahwa perang adalah rational choice dan pilihan yang tidak bisa dihindarkan dalam rangka merevisi sistem internasional yang hegemonik, anarkis, dan penuh kepentingan sempit pemimpin yang mengendalikan negara besar sebagaimana yang dipertontonkan secara telanjang oleh Donald Trump dan Benjamin Netanyahu saat ini.

Diplomasi Sebagai Moralitas Perang Pertama

Serangan pre-emptive yang dilakukan oleh AS dan Israel dengan menyasar Sayyid Ayatullah Rohullah Ali Khamenei dan para pejabat tinggi politik dan militer Iran pada akhir Februari lalu menunjukkan cacat besar dalam moralitas perang yang dibangun oleh AS dan Israel.

Keduanya berselubung dalam selimut diplomasi dan negosiasi melalui mediasi Oman di Muscatt dan Jenewa.

Namun, diplomasi dan negosiasi yang mereka jalankan terhadap Iran bersifat semu karena sejak lama mereka telah merancang sebuah serangan militer kolektif terhadap Iran untuk melumpuhkan negara yang terkenal sengit dalam menentang zionis dan praktik hegemonik AS di Timur Tengah.

Dalam moralitas perang AS dan Israel, perang bukan terjadi karena kegagalan diplomasi, melainkan diplomasi hanya menjadi basa-basi untuk melegitimasi intensi perang yang sudah mereka miliki.

Dalam merespons manipulasi politik tingkat tinggi yang dimainkan oleh AS dan Israel, Iran membangun moralitas perangnya dengan berbasis martabat dan kemanusiaan yang tinggi.

Iran menaruh hormat pada otoritas global seperti Badan Energi Atom Internasional untuk melakukan inspeksi terhadap fasilitas nuklirnya dalam rangka membuktikan bahwa klaim AS dan Israel hanyalah tuduhan keji belaka.

Iran mematuhi proses diplomasi dan negosiasi yang dijalankan oleh Oman untuk mencari titik temu dan keseimbangan perdamaian. Namun Iran dengan rekam jejak superioritas imperium besar di masa lalu tidak bersifat naif.

Iran paham manipulasi yang kerap dilakukan oleh baik AS maupun Israel. Iran tidak menafikan opsi peperangan dengan berpijak pada moralitas menjaga kedaulatan nasional dan martabat mereka sebagai bangsa merdeka dan berdaulat.

Moralitas Perang dalam Timbangan Hukum Humaniter

Moralitas peperangan secara legal formal diatur dalam kaidah hukum perang atau hukum humaniter internasional.

Adanya hukum perang bertujuan untuk membatasi dampak konflik bersenjata dan memberikan perlindungan bagi mereka yang berstatus sebagai non-kombatan.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini