Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Petinggi Bursa Efek Indonesia di Pusaran Kasus Reliance

PT Reliance Securities terseret kasus investasi surat utang negara. Kasus ini menyeret petingginya, Nicky Hogan, yang kini menjadi direksi BEI.

Petinggi Bursa Efek Indonesia di Pusaran Kasus Reliance
KONTAN
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Nama Reliance Securities bergaung kencang di jagat pasar modal Indonesia usai dua nasabah mengaku terjebak dalam investasi surat utang negara.

Adalah Alwi Susanto dan Sutanni, yang merasa dirugikan hingga miliaran rupiah usai menempatkan dana mereka di surat utang negara, FR0035.

Alwi dan Sutanni menempatkan dana melalui kesepakatan dengan seseorang yang mengaku agen marketing Reliance bernama Larasati.

Pada kesepakatan di awal Desember 2014 itu, Larasati mengaku sebagai Head of Wealth Management Reliance Securities. Namun, saat jatuh tempo, investasi pokok Alwi dan Sutanni tak kunjung cair.

Ternyata, Larasati sudah bukan menjadi staf Reliance sejak medio 2014. Anehnya, seluruh kesepakatan dengan nasabah itu terjadi di kantor Reliance.

Kasus ini juga melibatkan beberapa agen lepas (freelance) yang juga merekrut beberapa nasabah atas nama Reliance. Keganjilan lainnya, nasabah diminta mentransfer dana penempatan ke rekening PT Magnus Capital.

Salah seorang agen freelance yang dihubungi KONTAN memaparkan, jika berinvestasi Surat Utang Negara seri FR0035 minimal Rp 5 miliar, investor bakal memperoleh surat konfirmasi yang dilengkapi tanda tangan Nicky Hogan, yang kala itu menjabat sebagai Direktur Utama Reliance Securities melalui surat elektronik.

Saat ini, Nicky menjabat sebagai Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam bukti konfirmasi penjualan (trade confirmation) yang diperoleh KONTAN, tercantum tanda tangan Nicky Hogan sebagai Direktur Utama Reliance dan tanda tangan Larasati sebagai Head of Wealth Management Reliance.

Saat dikonfirmasi, Nicky mengakui saat kasus itu terjadi memang menjabat sebagai Direktur Utama Reliance. Namun, dia menampik tanda tangan yang ada di trade confirmation tersebut adalah tanda tangannya. 

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas