Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Kampanye Negatif Tembakau Semakin Marak

Ismanu Soemiran menilai, kampanye-kampanye negatif terhadap industri tembakau semakin marak.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Sanusi
zoom-in Kampanye Negatif Tembakau Semakin Marak
TRIBUN JABAR/BUKBIS CANDRA ISMET BEY
Petani memetik pucuk daun tembakau untuk menjaga kualitas di Desa Cibiru, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Minggu (7/2/2016). Petani tembakau mengaku kesulitan menjaga kualitas akibat curah hujan yang meninggkat beberapa waktu terakhir. harga tembakau kering Rp 40.000 per kilogram untuk didistribusikan kesejumlah daerah. TRIBUN JABAR/BUKBIS CANDRA ISMET BEY 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) Ismanu Soemiran menilai, kampanye-kampanye negatif terhadap industri tembakau semakin marak.

Seperti yang diungkapkan oleh salah satu guru besar salah satu universitas negeri yang menyatakan rokok memakan nyawa 200 ribu orang setiap tahunnya.

Menurutnya hal itu tidak benar dan tidak berdasarkan fakta.

"Mereka yang kampanye negatif ini menyasar kekuatan penunjang perekonomian pilar bangsa, karena industri tembakau ini menyumbang lebih dari Rp 150 triliun per tahun," ujarnya, Minggu (8/5).

Seharusnya dengan fakta itu, kata Ismanu, para cerdik pandai dan pemegang kebijakan harus peka terutama terhadap keberagamaan sehingga tidak mudah menuduh tembakau sebagai segala penyebab masalah.

Malahan, kata dia, kontribusi ekonomi besar dari tembakau, semestinya ditopang oleh sebuah kebijakan yang mencerminkan kedaulatan ekonomi dan budaya agar kretek terus bisa dilindungi.

"Jangan mengabaikan kebhinekaan, negara ini punya potensi, termasuk tembakau di dalamnya, jangan sampai tergadaikan," katanya.

Rekomendasi Untuk Anda

Tentang kesehatan, kata dia, saat ini yang diperjuangkan tidak murni lagi. Pasalnya banyak makanan-makanan yang tidak sehat namun tetap dibiarkan beredar tanpa ada yang protes.

“Banyak munculnya makanan-makanan palsu yang diolah kembali tetapi bertahun tahun tidak ada satu pun dari kelompok kesehatan ini melakukan perlawanan," kritiknya. (Hendra Gunawan/Kontan)

Sumber: Kontan
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas