Tribun Bisnis

Kereta Cepat Jakarta-Bandung Dibekali Teknologi Hadapi Gempa Hingga Petir

Presiden Direktur KCIC, Dwiyana Slamet Riyadi mengatakan, keamanan menjadi perhatian khusus, apalagi KCJB nanti saat beroperasi akan melaju

Penulis: Seno Tri Sulistiyono
Editor: Hendra Gunawan
Kereta Cepat Jakarta-Bandung Dibekali Teknologi Hadapi Gempa Hingga Petir
TRIBUNNEWS/Jeprima
Aktivitas pekerja menyelesaikan proyek pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) di kawasan Cawang, Jakarta Timur, Sabtu (5/6/2021). PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) terus mengebut proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Hingga kini, progres pembangunan proyek dengan nilai investasi 6,07 miliar dollar AS itu sudah mencapai 74 persen. dan akan mulai menjalankan uji coba pada November 2022 dan beroperasi secara komersial pada 2023 mendatang. Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) diklaim memiliki tingkat keamanan yang tinggi dari ancaman angin kencang, gempa bumi, hingga sambaran petir di lintasan kereta.

Presiden Direktur KCIC, Dwiyana Slamet Riyadi mengatakan, keamanan menjadi perhatian khusus, apalagi KCJB nanti saat beroperasi akan melaju sampai 350 km per jam.

Baca juga: Proyek KCJB Dinilai Bisa Tingkatkan Daya Tarik Investasi di Karawang

"Kami sudah siapkan teknologi canggih yang terpasang di lintasan dan di dalam rangkaian kereta yang dapat mencegah terjadinya bahaya," kata Dwiyana, Sabtu (19/11/2021).

Dwiyana menjelaskan, berbagai instrument untuk melindungi KCJB dari bahaya di antaranya Disaster Monitoring Center, sensor pendeteksi ancaman di sepanjang trase KCJB, dan Disaster Monitoring Terminal di Tegalluar sebagai pusat pengelolaan data kebencanaan.

Baca juga: Kereta Cepat Jakarta Bandung Disebut Proyek Nanggung, KCIC dan Gubernur Jabar pun Buka Suara

Terkait ancaman gempa, kata Dwiyana, sepanjang trase KCJB akan terpasang tujuh sensor yang dipasang di jarak rata-rata tiap 25 km.

Cara kerja dari sistem ini yaitu setiap sensor akan mengirim data jika mendeteksi getaran ke Disaster Monitoring Center untuk dianalisa dan ditarik kesimpulan agar dilakukan upaya pencegahan kecelakaan pada KCJB.

"Adapun sinyal kegempaan yang pertama kali akan ditangkap dan dikirim oleh alat sensor tersebut berupa gelombang P yang merupakan tanda awal terjadinya gempa," paparnya.

"Informasi itu lalu akan sampai ke Disaster Monitoring System sebelum terjadinya Gelombang S yang merupakan getaran perusak dari gempa bumi," sambung Dwiyana.

Dari sinyal gelombang P yang terdeteksi tersebut, Dwiyana memaparkan, kalau pihaknya dapat segera melakukan mitigasi ancaman dengan mengirimkan peringatan dan instruksi ke setiap rangkaian kereta yang sedang beroperasi.

Baca juga: Usai Terdampak Pandemi, PT KCIC Kebut 237 Titik Pembangunan Kereta Cepat

Alarm yang dikirim dari Disaster Monitoring Center untuk ancaman kegempaan terbagi ke dalam tiga level, yaitu level 1 untuk gelombang P antara 40 gal-80 gal, level 2 untuk 80 gal -120 gal, dan level 3 untuk gelombang P lebih dari 120 gal.

"KCJB ini proyek kolaborasi, termasuk untuk perlindungan gempa yang bekerja sama dengan BMKG. Mereka sudah memiliki alat sensor yang terpasang di dekat pusat gempa jadi kita bisa dapat early information kalau ada ancaman gempa untuk segera dilakukan mitigasi," ujar Dwiyana.

Sementara itu, dalam menghadapi ancaman dari benda asing, Dwiyana menyebut, nantinya akan dipasang enam alat sensorik di setiap overpass yang dilewati KCJB.

Sistem perlindungan objek asing ini juga akan dilengkapi jaring untuk menghindari adanya benda yang jatuh ke lintasan KCJB dari atas jembatan.

"KCJB ini berkecepatan tinggi, jadi kalau ada benda asing dampaknya fatal," tuturnya.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas