Tribun Bisnis

Potensi Ekonomi Digital RI Sangat Besar, Koreksi Harga Saham Perusahaan Teknologi Hanya Sesaat

Kehadiran industri 4.0 pun menjadi bukti bahwa saat ini perkembangan industri tidak dapat terlepas dari perkembangan teknologi.

Penulis: Hendra Gunawan
Editor: Sanusi
zoom-in Potensi Ekonomi Digital RI Sangat Besar, Koreksi Harga Saham Perusahaan Teknologi Hanya Sesaat
IST
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Hendra Gunawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Memasuki revolusi industri 4.0, teknologi digital menjadi salah satu modal utama yang dibutuhkan oleh para pelaku industri untuk mengembangkan lini usaha mereka.

Kehadiran industri 4.0 pun menjadi bukti bahwa saat ini perkembangan industri tidak dapat terlepas dari perkembangan teknologi.

Perkembangan sektor industri yang beriringan dengan perkembangan teknologi tentunya dapat membawa dampak yang positif pada suatu negara, salah satunya dampak positif pada peningkatan perekonomian negara tersebut.

Baca juga: Trafik Layanan Data Telkomsel Tumbuh Hingga 21 Persen Selama Masa Lebaran

Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2021 yang dikeluarkan Google, Bain & Company menyebutkan Indonesia memiliki potensi pertumbuhan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Potensi ekonomi digital Indonesia di tahun 2025 bisa mencapai US$ 146 miliar pada tahun 2025.

Melihat potensi ekonomi digital nasional yang besar, membuat banyak pihak tertarik untuk menggarapnya. Tak hanya sektor swasta yang 'kepincut' berinvestasi di perusahaan digital.

Beberapa perusahaan BUMN juga masuk menjadi angel investor di perusahaan digital yang ada di Indonesia. Bahkan Menteri BUMN Erick Thohir membuat Merah Putih Fund untuk mengakomodasi perusahaan rintisan digital nasional untuk mendapatkan pendanaan dari perusahaan BUMN.

Baca juga: We Got You: 3 Jurus Gojek Perkuat Layanan Mobilitas Terbaik bagi Konsumen

Anisa Pratita Kirana Mantovani, peneliti dari Center for Digital Society (CfDS) menilai wajar jika perusahaan swasta dan BUMN berinvestasi di perusahaan digital.

Menurutnya investasi di perusahaan digital yang dilakukan swasta dan BUMN ini diharapkan dapat menjadi solusi digital yang lengkap dengan nilai synergy value yang cukup tinggi (kerja sama antara dua pihak). Investasi ini bisa dikatakan sebagai bagian dari strategi digitalisasi yang semakin gencar yang dilakukan oleh swasta dan BUMN di industri digital.

"Investasi yang dilakukan swasta dan BUMN di perusahaan teknologi pasti sudah melalui penilaian risk management yang ketat. Tujuan utama investasi di perusahaan digital yang dilakukan oleh swasta dan BUMN adalah untuk mencari nilai tambah (value creation), sehingga perusahaan swasta dan BUMN tadi memiliki bisnis lain di luar bisnis intinya yang selama ini sudah mereka jalankan," terang Anisa dalam keterangan persnya, Selasa (17/5/2022).

Baca juga: Perjalanan Gojek Tokopedia Jadi GoTo, Sepakat Merger hingga Melantai di Bursa Efek Indonesia

Anisa memberikan contoh, investasi yang dilakukan Telkomsel di GoTo menciptakan kolaborasi yang bersifat strategis (program khusus untuk mitra Gojek, easy onboarding mitra Gojek untuk menjadi reseller Telkomsel, akses mudah di GoShop, dan fitur seperti number masking).

Sejauh ini synergy value yang telah terbangun antara Telkomsel bersama Gojek telah memperkuat layanan berbasis digital, mendorong inovasi, dan meningkatkan pengalaman bagi konsumen, drivers, dan pelaku usaha kecil (UMKM) di Indonesia yang turut mendorong perfomansi bisnis Telkomsel.

Saat ini investasi yang ditanamkan investor di perusahaan digital mengalami penyusutan. Penurunan ini disebabkan terkoreksinya harga saham perusahaan digital yang sahamnya dicatatkan di bursa global maupun regional. Melemahnya harga saham perusahaan di bursa ini tentu saja membawa dampak terhadap valuasi investasi perusahaan swasta nasional dan BUMN.

Penurunan dari nilai saham di pasar modal dinilai Anisa merupakan hal yang lumrah terjadi. Karakteristik harga saham di seluruh bursa saham akan mengalami perubahan ketika ada sentimen yang mempengaruhinya, baik itu sentimen positif maupun negatif. Karena saat bursa global dan regional masih dibayangi dengan rencana FED menaikkan suku bunga, dalam jangka pendek koreksi harga saham masih akan terjadi.

"Jika sentimen tersebut sudah berkurang, saham-saham yang telah mengalami koreksi tadi berpotensi akan mengalami kenaikan, termasuk saham-saham di perusahaan digital. Hingga saat ini, saya rasa performa perusahaan digital di Indonesia masih dapat meningkat dan berkembang. Mereka masih on the right track, utamanya sebagai katalisator transformasi digital Indonesia," ungkap Anisa.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas