Tribun Bisnis

Sore Ini, Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS Tembus ke Level Rp15.100

Fluktuasi nilai tukar rupiah dibayangi indeks Dolar AS yang sedikit menguat walaupun sebelumnya sempat melemah.

Penulis: Bambang Ismoyo
Editor: Seno Tri Sulistiyono
zoom-in Sore Ini, Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS Tembus ke Level Rp15.100
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Karyawan menunjukkan mata uang Rupiah dan Dolar AS di tempat penukaran uang di Jakarta. Nilai tukar mata uang Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di level Rp15.192 pada Rabu (5/10/2022) sore. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di level Rp15.192 pada Rabu (5/10/2022) sore.

Jika dibandingkan pada Selasa (4/10/2022), rupiah terpantau menguat 55 poin.

Seperti diketahui, dalam beberapa hari ke belakang, rupiah mengalami depresiasi yang cukup dalam.  Puncaknya menembus ke level Rp15.300 pada Senin (3/10/2022).

Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan, untuk besok (6/10/2022) nilai tukar rupiah diprediksi masih mengalami fluktuasi, dan berpotensi melemah di rentang Rp15.180 hingga Rp15.260.

Baca juga: Rupiah Masih Berpotensi Melemah Terhadap Dolar AS, Pengamat Pasar Uang: Pekan Ini Dekati Rp15.400

"Dalam perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 55 point walaupun sebelumnya sempat menguat 75 point dilevel Rp15.192 dari penutupan sebelumnya di level Rp15.247," ucap Ibrahim dalam keterangannya kepada Wartawan, Rabu (5/10/2022).

"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp15.180 hingga Rp15.260," sambungnya.

Ibrahim kembali mengatakan, fluktuasi nilai tukar rupiah dibayangi indeks Dolar AS yang sedikit menguat walaupun sebelumnya sempat melemah.

Baca juga: Rupiah Melemah Rp15.000 Per Dolar AS, Begini Tanggapan Jokowi, Menkeu Hingga Pengamat

Sementara di sisi dalam negeri, pasar terus memantau perkembangan penanganan atau antisipasi Pemerintah untuk menahan laju inflasi yang cukup tinggi.

"Apalagi negara-negara Eropa Sebagian sudah terdampak resesi sehingga perlu ada amunisi baru untuk menanggulanginya, walaupun saat ini sudah ada strategi bauran ekonomi yang dijadikan andalan baik oleh pemerintah maupun Bank Indonesia," pungkas Ibrahim.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas