Tribun Bisnis

Badai PHK

Dekan FEB UI Sebut Badai PHK Startup Jadi Dampak Resesi Ekonomi 2023

Para investor yang menanamkan investasi di sejumlah Startup, disebut Teguh, bakal berpikir ulang untuk membakar uangnya

Penulis: Nitis Hawaroh
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Dekan FEB UI Sebut Badai PHK Startup Jadi Dampak Resesi Ekonomi 2023
(Ilustrasi Sayurbox /The National)
(Ilustrasi Sayurbox /The National) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nitis Hawaroh

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dekan FEB Universitas Indonesia, Teguh Dartanto menyampaikan, badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang melanda sejumlah perusahaan rintisan atau Startup, merupakan dampak dari ancaman resesi ekonomi global 2023.

Menurut Teguh, tak sedikit perusahaan rintisan itu justru menopang dana dari para investor asing.

"Ya sebenarnya kalau PHK ini adalah bagian dari dampak dari resesi global itu sendiri. Tetapi menurut saya memang kalau PHK yang di startup ini campuran (investor)," kata Teguh usai acara Dies Natalis FEB UI di Jakarta, Rabu (7/12/2022).

Baca juga: Pendapatan Terhambat, Perusahaan Media BuzzFeed PHK 12 Persen Karyawannya

"Artinya memang selamanya ini startup ini secara keuangan belum substance ya, sangat mengandalkan kucuran dana dari investor," sambungnya.

Dikatakan Teguh, adanya ancaman resesi ekonomi global 2023, para investor yang menanamkan investasi di sejumlah Startup, disebut Teguh, bakal berpikir ulang untuk membakar uangnya.

"Oleh karena itu, karena enggak enggak ada kucuran dana lagi dari investor, maka tidak ada cara lain bagi Startup itu melakukan rasionalisasi. Agar mereka bisa tetap bergerak," ucapnya.

Untuk itu, Teguh menegaskan tak ada cara lain untuk mempertahankan pendapatan perusahaan untuk menjaga kebutuhan operasional perusahaan, ditengah kondisi tersebut.

"PHK ini adalah cara terakhir yang mungkin satu satunya cara yang mereka tempuh. Walupun mungkin ini memberikan sinyal yang kurang baik bagi perekonomian," tegasnya.

Untuk diketahui, baru-baru ini Perusahaan startup Sayurbox melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 5 persen karyawan dari total keseluruhan organisasi.

Efisiensi karyawan ini disebut oleh Sayurbox sebagai langkah mereka menjadi perusahaan yang mandiri secara finansial dan tumbuh secara sustainable dalam jangka panjang di tengah tantangan makro ekonomi global.

Baca juga: Badai PHK Startup Indonesia Diklaim Bukan Lantaran Gaji Kegedean, Lalu Apa?

Co-Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Sayurbox Amanda Susanti mengatakan PHK ini merupakan keputusan sulit yang tidak dapat dihindari.

"Keputusan sulit ini tidak dapat dihindari supaya perusahaan lebih agile dan mampu menjaga tingkat pertumbuhan. Sehingga terus memberikan dampak positif bagi para konsumen, mitra pengemudi serta ribuan petani dan produsen lokal yang bekerjasama dengan kami dan supaya bisnis bisa sustainable dalam jangka panjang," katanya dalam keterangan resmi, Rabu (7/12/2022).

Amanda berujar keputusan efisiensi tidak ada hubungannya dengan kinerja masing-masing individu.

"Keputusan efisiensi karyawan ini tidak ada hubungan sama sekali dengan kinerja dari masing-masing individu atau tim manapun, tetapi memang dikarenakan oleh rasionalisasi dan restrukturisasi dari bisnis e-grocery Sayurbox agar tetap dapat berkelanjutan (sustainable) dalam jangka panjang," ujarnya.

Ia berharap usai efisiensi ini, Sayurbox dapat semakin berkembang dan lebih solid.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas