Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun Bisnis

Kisah Pak Harun, 26 Tahun Jadi Porter Stasiun Pasar Senen dengan PendapatanTak Menentu

Harun menjadi salah satu proter yang mencari nafkah dengan menawarkan jasanya kepada para pengguna kereta api di Stasiun Pasar Senen.

Penulis: Rahmat Fajar Nugraha
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Kisah Pak Harun, 26 Tahun Jadi Porter Stasiun Pasar Senen dengan PendapatanTak Menentu
Tribunnews/Rahmat W Nugraha
Harun, porter di Stasiun Pasar Senen yang mengaku sudah 26 tahun menekuni profesinya sebagai kuli angkut bagasi penumpang. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Rahmat W. Nugraha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Suasana Stasiun Pasar Senen, Selasa (18/4/2023) 14.00 WIB tadi terlihat lebih ramai dari biasanya karenan banyak warga Jakarta yang akan mudik berlebaran di kampung halaman.

Hilir mudik mobil pengantar dengan penumpang yang turun di stasiun ini menjadi pemandangan sejak pagi sampai menjelang sore ini.

"Pak bisa dibantu menggunakan jasa porter," terdengar suara seorang porter tua menawarkan jasa membawakan bagasi bawaan calon penumpang yang baru tiba di Stasiun Pasar Senen.

Mengenakan baju berwarna biru dengan nomer 007 pria bernama Harun menjadi salah satu proter yang mencari nafkah dengan menawarkan jasanya kepada para pengguna kereta api di stasiun ini.

Harun yang sudah puluhan tahun bekerja menjadi porter di Stasiun Pasar Senen mengatakan bahwa pekerjaannya sebagai porter yakni membantu membawakan barang-barang dari penggunaan kereta api.

"Bekerja jadi porter sejak 1997 ada sekitar 26 tahun. Dari pada nganggur mending di sini," kata Harun kepada Tribunnews.com ditemui di Stasiun Pasar Senen, Selasa (28/4/2023).

Baca juga: Sudah Sampai Pekalongan, Pemudik Ini Ketinggalan Istri di Brebes, Baru Ingat Saat Anak Tanya Ini

Berita Rekomendasi

Rambutnya yang memutih menandakan dirinya tak muda lagi seperti dulu. Harun mengungkapkan bahwa pendapatan menjadi porter tidak menentu.

"Pendapatan kadang kalau ramai bisa Rp 150 ribu kalau sepi ya kurang dari itu," katanya.

Bapak dari tiga orang anak ini menceritakan bahwa pengalamannya puluhan tahun menjadi porter sudah banyak yang telah dilalui.

Dikatakan Harun bahkan ia pernah tidak dibayar ketika telah melaksanakan jasanya.

Baca juga: Cerita Porter Terminal Kampung Rambutan Dikerjain Usai Angkut Barang Penumpang

"Ada juga yang nggak ngasih, kita juga mau minta ya malu. Mungkin dikiranya gratis namanya orang nggak tahu. Biarin saja saya tinggal. Kalau yang sudah biasa ya ngasih," terangnya.

Harun juga menurutkan bahwa pekerjaannya menjadi porter hanya cukup untuk penuhi kebutuhan keluarga di rumah.

"Inikan baru ramai dari Jumat kemarin, kalau lagi ramai buat nutupin yang sepi, kerja kaya gini cukup buat makan saja," terangnya.

Harun mengungkapkan tahun ini ia belum bisa balik ke kampung halaman di Kebumen karena sedang banyak keperluan.

"Nggak balik ke kampung karena banyak keperluan di rumah, tapi pengen sih pulang kampung," tutupnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2024 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas