Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Di Hari Jadi TNI, Waket DPD RI Dorong Kolaborasi TNI-Pemda Jaga Ketahanan Ekosistem Hutan

TNI merupakan simbol pelindung setia bagi kemakmuran dan kesuburan negara dari ancaman apapun temasuk ancaman perubahan iklim.

Di Hari Jadi TNI, Waket DPD RI Dorong Kolaborasi TNI-Pemda Jaga Ketahanan Ekosistem Hutan
DPD RI
Wakil Ketua DPD RI Sultan B Najamudin pada hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke-76 mendorong agar TNI dan Pemerintah daerah melakukan kolaborasi dan kerja sama dalam upaya menjaga ketahanan ekosistem hutan. 

TRIBUNNEWS.COM - Laju degradasi lingkungan hidup khususnya deforestasi hutan secara nyata telah menyebabkan terancamnya habitat populasi satwa liar terlindungi di kawasan hutan Indonesia. Pada beberapa laporan, terdapat jenis hewan langka asli indonesia yang bahkan disimpulkan sudah mengalami kepunahan.

Menyikapi fenomena yang disebut sebagai krisis lingkungan hidup ini, wakil ketua DPD RI Sultan B Najamudin pada hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang ke-76 mendorong agar TNI dan Pemerintah daerah melakukan kolaborasi dan kerja sama dalam upaya menjaga ketahanan ekosistem hutan.

"Dengan sangat prihatin, kami harus mengatakan bahwa Suasana ekosistem hutan Indonesia sedang dalam situasi kritis dalam beberapa tahun terakhir. Tapi kita belum benar-benar menetapkan krisis ini sebagai sesuatu yang extraordinary", ujar Senator yang konsen dengan isu lingkungan hidup ini.

Krisis lingkungan, menurut Sultan, merupakan musibah paling sistematis dan masif yang secara perlahan akan mengevolusi pola kehidupan makhluk hidup khususnya manusia modern jika kita masih abai melestarikan ekosistem hutan dan fauna endemik kita dengan pendekatan intensif.

"Sebagai negara yang kaya akan biodiversitas, sudah saatnya Indonesia memiliki sistem ketahanan lingkungan hidup yang detail dan unggul sebagai instrumen pelindung bagi satwa langka dalam ekosistem hutan Indonesia. Karena sejatinya Sistem pertahanan dan keamanan negara kita juga diorientasikan pada usaha melindungi ketahanan satwa liar langka dan hutan", ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjut senator Sultan, dalam momentum peringatan hari jadi TNI yang ke-76 ini, DPD RI secara kelembagaan mendorong agar TNI khususnya TNI angkatan darat yang tersebar di seluruh kabupaten/kota membangun kerja sama intensif bersama pemerintah daerah setempat untuk saling berbagai peran dalam menjaga satwa langka dan ekosistem hutan dari para mafia tambang dan pemburu liar.

"TNI merupakan simbol pelindung setia bagi kemakmuran dan kesuburan negara dari ancaman apapun, temasuk ancaman perubahan iklim. Kami mengajak TNI dan Pemda aktif berkolaborasi pada upaya konservasi dan konservasi ekosistem hutan," ujar Sultan.

Melansir The Guardian, Minggu (7/6/2020), lebih dari 500 spesies hewan liar darat dilaporkan berada diambang kepunahan. Hewan-hewan tersebut diperkirakan akan punah dalam 20 tahun ke depan. Masalah kepunahan merupakan masalah lingkungan yang tidak dapat dipulihkan.

"Berkurangnya luas hutan menjadi faktor penting penyebab terancam punahnya satwa liar Indonesia, karena hutan menjadi habitat utama bagi satwa liar itu. Aktivitas ilegal para mafia tambang dan Perusak Hutan dianggap paling bertanggung jawab atas laju deforestasi hutan Indonesia dengan keuntungan yang fantastis," kata mantan wakil Gubernur Bengkulu ini.

Diketahui, Mafia Tambang & Perusak Hutan Paling Tajir, Raup Rp4.000 Triliun Setiap Tahun Kejahatan sektor lingkungan telah menghasilkan pendapatan sebanyak US$110 sampai dengan US$281 miliar atau lebih dari Rp4.000 triliun, setiap tahunnya.

Hasil kajian Financial Action Task Force (FATF) menyebutkan bahwa kejahatan lingkungan adalah kejahatan yang paling menguntungkan di dunia. Dalam kajian yang berjudul "Money Laundering From Enviromental Crime", lembaga anti pencucian uang global itu menyebut kejahatan sektor lingkungan telah menghasilkan pendapatan sebanyak US$110 sampai dengan US$281 miliar, lebih dari Rp4.000 triliun kurs Rp14.271,9 per dolar Amerika Serikat, setiap tahunnya.

"Kejahatan kehutanan, penambangan liar, dan perdagangan limbah mencapai 66 persen, atau dua pertiga dari angka ini," demikian kajian yang dikutip Bisnis, Minggu (3/10/2021) (*)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas