Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Cerita Sang Teman Soal Kekhawatiran Kim Jong Nam Atas Keselamatan Dirinya

Kim Jong Nam menghabiskan beberapa tahun terakhirnya bersembunyi dari rezim yang dijalankan saudara tirinya yang diktator.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Adi Suhendi
zoom-in Cerita Sang Teman Soal Kekhawatiran Kim Jong Nam Atas Keselamatan Dirinya
net
Kim Jong Nam dan Kim Jong Un 

Kadang-kadang ia terlihat memakai jeans dan T-shirt di bandara atau restoran dari Paris ke Indonesia, Kim selalu tersenyum sopan kepada wartawan.

Mungkin melihat kesempatan untuk melakukan reformasi ketika kesehatan ayahnya pulih, Kim Jong Nam berbicara pada awal tahun 2011.

Ia bicara mengenai pandangan politik kepada Yoji Gomi, seorang wartawan Jepang, beberapa bulan sebelum Kim Jong Un diangkat sebagai Pemimpin Korea Utara.

Tapi ketika Gomi menerbitkan buku biografinya pada tahun 2012 yang memuat kritik terhadap suksesi kekuasaan Kim Jong Un, Kim Jong Nam tidak tinggal diam.

Setahun kemudian, paman mereka yang merupakan orang nomor dua kala ayah mereka memimpin dieksekusi atas dasar ambisi politik kotor dan serangkaian pembersihan orang-orang di kekuasaan Kim Jong Un.

Setelah itu, Kim Jong-nam menghilang dari peredaran dan menghindari sorotan media.

"Ia menjadi sangat sedih tentang situasi di negaranya. Dia benar-benar merasa sama seperti masyarakat di sana. Hal ini ditambahkan dengan tekanan kepadanya karena ia tidak bisa berbuat apa-apa," kata Sahakian.

Rekomendasi Untuk Anda

Namun, lebih lanjut dia berujar, saudara Kim Jong Nam, katanya, telah menjadi bagian dari sistem monolitik yang dijalankan para Jenderal yang jauh lebih tua di sekelilingnya.

"Saya tidak habis pikir saudaranya menjadi boneka yang dikendalikan mereka," kata Sahakian menirukan omongan Kim Jong Nam saat itu.

Kim Jong Nam dikenal sebagai orang bijaksana yang menginginkan reformasi, tapi merasa tak berdaya.

"Meskipun ia masih memiliki klaim untuk jabatan tinggi sebagai putra sulung, dia tahu dia tidak punya karakter untuk memasuki dunia kejam politik Korea Utara," kata Sahakian. (Guardian)

Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas