Tribun

Yu Yanagisawa akan Kerja Sama dengan Perusahaan Jepang Kembangkan Penemuannya

Kaca pecah tak perlu dibuang, bisa disambung lagi secara alamiah, kembali pulih seperti tidak pecah.

Editor: Dewi Agustina
zoom-in Yu Yanagisawa akan Kerja Sama dengan Perusahaan Jepang Kembangkan Penemuannya
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Yu Yanagisawa (33), peneliti Universitas Tokyo dan eksekutif CellFiber Co.Ltd kelahiran Shizuoka. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Kaca pecah umumnya dibuang. Orang Jepang mengatakan mottainai (sayang ya).

Namun kini kaca pecah tak perlu dibuang, bisa disambung lagi secara alamiah, kembali pulih seperti tidak pecah.

"Pulihnya kembali kaca yang pecah itu juga kita perhatikan untuk keamanan dan kenyamanan penggunaan agar tidak membahayakan bagi orang yang bersangkutan," kata Yu Yanagisawa, peneliti dari Universitas Tokyo dan penemu bahan kaca pecah bisa tersambung kembali kepada Tribunnews.com, Jumat (22/12/2017).

Meskipun demikian diakui penelitian dan pengembangan tersebut masih jauh dari sempurna.

Lalu bagaimana penyempurnaan lebih lanjut?

Baca: Penemuan Peneliti Jepang Yu Yanagisawa, Kaca Pecah Bisa Tersambung Otomatis

"Kita akan kerja sama dengan pihak lain, misalnya perusahaan Jepang agar bahan ini bisa terpakai di masyarakat nantinya. Kecepatan penyempurnaan tergantung dukungan dana yang ada untuk penelitian tersebut," tambahnya.

Apakah bahan polimer yang digunakan bisa seperti kaca biasa, transparan polos?

"Bisa saja dan itu tidak sulit. Namun ada beberapa kondisi untuk bisa mencapai hal tersebut termasuk yang paling sensitif adalah suhu udara harus sekitar 25 derajat Celcius. Kalau berubah jauh kaca akan berubah, menjadi sedikit berwarna dan sebagainya," kata dia.

Demikian kekuatan kaca organik polimer yang diciptakannya tersebut juga mudah tergesek karena lebih lembut atau lebih empuk ketimbang kaca biasa yang keras.

Baca: 8 Jam Lamanya Putri Novanto Dwina Michaella Dicecar KPK Seputar Asal-usul Saham PT Murakabi

Bagaimana terhadap kesehatan, misalnya apakah mengeluarkan bau dan zat berbahaya?

"Tidak ada yang membahayakan. Kalau pun bau mungkin hanya sedikit sekali bau sulfur (kalau pun ada) dan tak membahayakan kesehatan manusia," kata Yanagisawa, peneliti muda kelahiran Kota Shizuoka 33 tahun lalu.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas