Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Protes Depan Kemenlu Jepang, LSM Minta Proyek Pembangkit Batubara di Indramayu Dihentikan

(LSM) Jepang, FoE/Walhi melakukan unjuk rasa di depan kementerian luar negeri Jepang Kasumigaseki Tokyo meminta PM Jepang agar menyetop bantuan ke

Protes Depan Kemenlu Jepang, LSM Minta Proyek Pembangkit Batubara di Indramayu Dihentikan
FoE Japan
Protes di depan kementerian luar negeri Jepang 21 Oktober 2020 mengenai pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara di Indramayu 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jepang, FoE/Walhi melakukan unjuk rasa di depan kementerian luar negeri Jepang Kasumigaseki Tokyo meminta PM Jepang agar menyetop bantuan ke Indonesia untuk pembangkit listrik tenaga batu bara di Indramayu.

"Jangan danai pembangkit listrik tenaga batu bara di Indramayu," tulis spanduk besar yang dipajang di depan kementerian luar negeri Jepang di Kasumigaseki Tokyo 21 Oktober 2020.

LSM tersebut juga membuat petisi lewat internet agar Jepang menghentikan bantuan ke Indonesia lewat JICA (badan kerjasama internasional Jepang) bagi pendanaan pembangkit listrik tenaga batu bara di Indramayu tersebut.

"Ada ribuan orang di Jawa, Indonesia, yang menjalani kehidupannya dengan menanam padi, sayur mayur, dan buah-buahan sepanjang tahun. Pemerintah Jepang dan Organisasi Kerjasama Internasional (JICA) berusaha menghancurkan hidup mereka atas nama bantuan pembangunan," tulis petisi LSM tersebut.

Petani yang menyuarakan penentangan terhadap pembangunan didakwa dengan tuduhan palsu, tambahnya, dan dipenjara selama lima hingga enam bulan penjara karena tuduhan palsu.

"Selama empat tahun terakhir, telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia seperti mengancam dan melecehkan pihak berwenang Indonesia dan pemenjaraan karena tuduhan palsu terhadap oposisi damai."

Bagi masyarakat lokal, perampasan lahan pertanian dan perikanan, kompensasi, dan lainnya bukanlah solusi untuk mempertahankan mata pencaharian mereka, tambah LSM itu lagi.

"Ada juga banyak kekhawatiran tentang bahaya kesehatan yang disebabkan oleh polusi udara seperti debu. Polusi udara sudah terjadi di pembangkit listrik tenaga batu bara yang ada. Pembangkit listrik yang akan dibangun kali ini akan menghasilkan polutan udara dalam jumlah besar, namun teknologi pengendalian pencemaran udara yang disediakan oleh sebagian besar pembangkit listrik tenaga batu bara di Jepang tidak akan digunakan sama sekali. "

Penjelasan kepada penduduk setempat sangat langka, para petani bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi dengan tanah pertanian yang mereka tanam, dan mereka tidak diberi kesempatan untuk berbicara, tambahnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas