Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pascapembunuhan Ilmuwan Iran, Kapal Induk Nimitz Bergerak ke Teluk Persia

Kapal induk USS Nimitz bergerak menuju Teluk Persia, diklaim guna mendukung penarikan tentara AS dari Afghanistan dan Irak pertengahan Januari 2021.

Pascapembunuhan Ilmuwan Iran, Kapal Induk Nimitz Bergerak ke Teluk Persia
US NAVY
FILE - Kapal induk AS USS Nimitz dikabarkan berlayar ke Teluk Persia di tengah meningkatnya ketegangan menyusul pembunuhan seorang ilmuwan Iran, Jumat (27/11/2020). 

Pembunuhan Mohsen Fakhrizadeh menurutnya memberi implikasi luas bagi pemerintahan Joe Biden-Kamala Harris.

Serangan ini dipastikan memicu reaksi tajam Iran, seperti halnya serangan udara AS pada 3 Januari 2020 yang menewaskan Jenderal Qassim Suleimani.

Pembunuhan ini dapat memperumit upaya pemerintahan AS berikutnya yang kemungkinan akan memulihkan kesepakatan nuklir Iran 2015, seperti yang telah dia janjikan.

Presiden Donald Trump secara sepihak menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018, meninggalkan sejumlah Negara lain yang terlibat perjanjian ini.

Kesepakatan nuklir Iran 2015 dirancang Presiden Barack Obama. Keputusan Trump itu mengisolasi AS dari sekutu barat yang mencoba mempertahankan perjanjian tersebut.

Trump kemudian menjatuhkan sanksi ketat pada Iran dalam upaya untuk memaksanya kembali ke meja perundingan, tawaran yang ditolak Iran.

Israel sejak lama menentang kesepakatan nuklir ala Obama itu. Mereka mengkhawatirkan pencapaian Iran atas teknologi militer yang mampu mencapai negara mereka.

Aljazeera dalam ulasan terbarunya menilai, pembunuhan Fakhrisadeh ini benar-benar akan menyulitkan Biden dan AS di masa mendatang.

Joe Biden akan kesulitan memulai kembali diplomasi Washington dan Teheran, seperti dijanjikannya di masa kampanye. 

Biden-Harris akan resmi menjabat sebagai pemimpin AS pada 20 Januari 2021. Janjinya kembali ke kesepakatan nuklir Iran membalikkan tekanan keras pemerintahan Trump atas Iran.

Meskipun masih belum jelas siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan Fakhrizadeh di luar Teheran, para pejabat Iran menuding Israel.

Tindakan keras kemungkinan bisa diambil Iran dalam waktu dekat. “Iran akan melakukan sesuatu seperti ini terhadap Israel atau terhadap AS sendiri,” kata Trita Parsi, Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute, lembaga pemikiran  di Washington DC.

Parsi mengatakan pembunuhan Fakhrizadeh, menciptakan situasi "win-win" bagi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Jika pemerintah Iran merespons, kata Parsi, Netanyahu dapat menyeret Washington ke dalam konfrontasi militer dengan Teheran.

Sementara jika Iran menahan diri, pemimpin Israel itu telah menciptakan suasana yang membuat diplomasi AS dengan Iran lebih sulit.

Usaha Netanyahu Merintangi Kebijakan Biden-Harris

Israel, yang selama bertahun-tahun dituduh melakukan serangkaian pembunuhan terarah terhadap ilmuwan nuklir Iran, menolak untuk segera mengomentari pembunuhan Fakhrizadeh.

“Dari sudut pandang Netanyahu, ini adalah momen baginya untuk bisa melemahkan Biden. Dalam beberapa hal, Biden adalah target sebenarnya di sini,” kata Parsi kepada Al Jazeera.

Trump pertengahan bulan ini telah menyiapkan skenario menggempur Iran. Ia meminta nasihat opsi menyerang fasilitas penelitian nuklir Iran di Natanz, sebelum dia meninggalkan

Pemerintah Iran merespon informasi ini, jika serangan terjadi maka balasan menghancurkan akan dilakukan Iran.

Angkatan Udara AS menerbangkan pembom B-52 jarak jauh dari pangkalannya di North Dakota ke Timur Tengah, untuk mencegah agresi dan meyakinkan mitra dan sekutu AS.

Pernyataan dikeluarkan Komando Pusat AS pada 21 November 2020. Nader Hashemi, Direktur Pusat Studi Timur Tengah di Sekolah Studi Internasional Universitas Denver, mengatakan pembunuhan itu berkorelasi dengan agande pemerintahan Trump.

"Polanya adalah upaya pemerintahan Trump membuat Iran bertekuk lutut, kemungkinan untuk menjatuhkan rezim, untuk melumpuhkannya melalui sanksi maksimum," kata Hashemi kepada Al Jazeera.(Tribunnews.com/Sputniknews/Aljazeera/CNN/NYT/AlMasdarNews/xna)

Ikuti kami di
Editor: Setya Krisna Sumarga
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas