Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Politisi Jepang Terpecah Dua Setelah Menkeu Nyatakan Tak Ada Subsidi 100.000 Yen Kedua Kali

Politisi Jepang terpecah dua antara pro dan kontra subsidi kedua kali 100.000 yen bagi setiap warga yang berdomisili di Jepang

Politisi Jepang Terpecah Dua Setelah Menkeu Nyatakan Tak Ada Subsidi 100.000 Yen Kedua Kali
Foto Richard Susilo
Wakil PM Jepang sekaligus Menteri Keuangan Jepang Taro Aso dalam jumpa pers kemarin (19/1/2021). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO -  Politisi Jepang terpecah dua antara pro dan kontra subsidi kedua kali 100.000 yen bagi setiap warga yang berdomisili di Jepang, setelah Wakil PM Jepang yang juga Menteri Keuangan Taro Aso menolak memberikan 100.000 yen subsidi kedua kepada masyarakat kemarin (19/1/2021).

"Banyak yang kita pikirkan untuk membantu masyarakat. Tetapi pemberian kedua kali subsidi 100.000 yen kepada individu terpikirkan paling belakang itu," papar Menkeu Aso kemarin (19/1/2021).

Menurut Aso saat pembelian subsidi 100.000 yen kepada setiap individu di masa lalu umumnya malah ditabung saja tidak dipakai.

"Jadi pengaruhnya sangat kecil dalam perekonomian kalau cuma di tabung saja," tambahnya.

Politisi Jepang sumber Tribunnews.com Rabu ini (20/1/2021) menentang komentar tersebut.

"Pajak itu uang rakyat, kan bisa dikembalikan lagi kepada rakyat sementara ini untuk membantu kehidupan mereka. Lagi pula itu keputusan PM Jepang bukan keputusan dia dan bukan pula uang dia," tekan sumber tersebut.

Proposal untuk pemberian kembali yang kedua kali sebenarnya telah disiapkan oleh politisi Jepang setelah enam bulan lalu rakyat mendapatkan bantuan 100.000 yen per orang.

Namun dengan penipuan yang marak beredar dan membuat pusing polisi pula menangkapi banyak orang saat ini, memanfaatkan subsidi pemerintah dengan dokumen palsu, menjadi pertimbangan untuk menahan subsidi kedua kalinya.

PM Jepang Yoshihide Suga juga selama ini hanya menyatakan bahwa perhatian utama kepada pihak perusahaan khususnya restoran di mana banyak infeksi beredar di restoran karaoke dan tempat operasi saat malam hari.

"Kita masih fokuskan perhatian antisipasi pandemi terutama di pusat-pusat berkumpulnya banyak orang saat malam hari seperti restoran. Itu dulu yang masih kita tekankan saat ini," papar PM Suga dalam jumpa persnya 7 Januari 2021 lalu.

Sementara terkait perekonomian bisnis dan kehidupan WNI yang ada di Jepang, untuk meningkatkan semangat wiraswasta WNI di Jepang Forum BBB yang akan memiliki jaringan di 47 perfektur di Jepang dan 23 wilayah di Tokyo akan mengadakan penyuluhan lewat zoom bagi WNI di Jepang secara gratis. Email: bbb@jepang.com dengan subject : BBB.

Ikuti kami di
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas