Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Akhiri 12 Tahun Pemerintahan Benjamin Netanyahu, Naftali Bennett Dilantik Jadi PM Israel

Naftali Bennett memenangkan mosi tidak percaya dengan margin tersempit, hanya 60 suara dibanding 59.

Akhiri 12 Tahun Pemerintahan Benjamin Netanyahu, Naftali Bennett Dilantik Jadi PM Israel
YONATAN SINDEL / POOL / AFP
Pemimpin partai Yemina Israel, Naftali Bennett, menyampaikan pernyataan politik di Knesset, Parlemen Israel, di Yerusalem, pada 30 Mei 2021. Kelompok garis keras nasionalis Naftali Bennett mengatakan hari ini dia akan bergabung dengan koalisi pemerintahan yang dapat mengakhiri pemerintahan pemimpin terlama di negara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. 

TRIBUNNEWS.COM - Naftali Bennett dilantik sebagai Perdana Menteri Israel yang baru pada Minggu (13/6/2021).

Bennett memenangkan mosi tidak percaya dengan margin tersempit, hanya 60 suara dibanding 59.

Kemenangan Bennett mengakhiri cengkeraman kekuasaan Netanyahu selama 12 tahun sebagai pemimpin terlama di Israel.

Dilansir CNN, dalam dua tahun terakhir, Israel telah menjalani empat kali pemilihan, dengan pemerintahan baru Bennett, kebuntuan politik yang panjang di negara itu diharapkan berakhir.

Baca juga: PROFIL Naftali Bennett, Keras Terhadap Palestina, Incar Posisi Benjamin Netanyahu

Baca juga: Tak Sekadar Social Distancing, Menhan Israel Naftali Bennett Minta Jaga Kontak dengan Orang Tua

Pemimpin partai Yemina Israel, Naftali Bennett, menyampaikan pernyataan politik di Knesset, Parlemen Israel, di Yerusalem, pada 30 Mei 2021. Kelompok garis keras nasionalis Naftali Bennett mengatakan hari ini dia akan bergabung dengan koalisi pemerintahan yang dapat mengakhiri pemerintahan pemimpin terlama di negara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Pemimpin partai Yemina Israel, Naftali Bennett, menyampaikan pernyataan politik di Knesset, Parlemen Israel, di Yerusalem, pada 30 Mei 2021. Kelompok garis keras nasionalis Naftali Bennett mengatakan hari ini dia akan bergabung dengan koalisi pemerintahan yang dapat mengakhiri pemerintahan pemimpin terlama di negara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. (YONATAN SINDEL / POOL / AFP)

Koalisi yang terbentuk di pemerintahan yang baru disebut-sebut sebagai yang paling beragam, dengan Partai Arab bergabung di dalamnya.

Dalam pidatonya, Bennett merayakan keragaman dan memperingatkan polarisasi di dalam negeri.

"Dua kali dalam sejarah, kita telah kehilangan rumah kita justru karena para pemimpin generasi tidak dapat duduk bersama dan berkompromi," kata Bennet.

"Saya bangga dengan kemampuan untuk duduk bersama dengan orang-orang dengan pandangan yang sangat berbeda dari saya sendiri."

Bennett merupakan perdana menteri dari Partai Yamina, dikenal sebagai partai sayap kanan.

Baca juga: Nasib Perdana Menteri Benjamin Netanyahu Ditentukan Malam Ini

Presiden AS Joe Biden menghadiri sesi kerja pada KTT G7 di Carbis Bay, Cornwall pada 12 Juni 2021. Para pemimpin G7 dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat bertemu akhir pekan ini untuk pertama kalinya di hampir dua tahun, untuk pembicaraan tiga hari di Carbis Bay, Cornwall.
Presiden AS Joe Biden menghadiri sesi kerja pada KTT G7 di Carbis Bay, Cornwall pada 12 Juni 2021. Para pemimpin G7 dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat bertemu akhir pekan ini untuk pertama kalinya di hampir dua tahun, untuk pembicaraan tiga hari di Carbis Bay, Cornwall. (Leon Neal / POOL / AFP)

Ucapan Selamat untuk Bennett

Halaman
123
Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Tiara Shelavie
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas