AS, Inggris, dan Australia Umumkan Aliansi Indo-Pasifik, Disebut untuk Lawan China
Inggris, Amerika Serikat, dan Australia mengumumkan pakta keamanan khusus untuk berbagi teknologi canggih, yang disebut untuk melawan China.
Penulis: Ika Nur Cahyani
Editor: Garudea Prabawati
TRIBUNNEWS.COM - Presiden Joe Biden pada Rabu mengumumkan Amerika Serikat membentuk aliansi keamanan Indo-Pasifik baru dengan Inggris dan Australia yang akan memungkinkan pembagian kemampuan pertahanan yang lebih besar.
Inggris, Amerika Serikat, dan Australia mengumumkan pakta keamanan khusus untuk berbagi teknologi canggih, yang disebut untuk melawan China.
Dilansir BBC, dengan kemitraan ini, Australia berpotensi membangun kapal selam bertenaga nuklir untuk pertama kalinya.
Pakta yang disebut AUKUS itu juga akan mencakup pembagian teknologi berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), teknologi kuantum, dan dunia maya.
Tiga negara besar ini disebut khawatir dengan pertumbuhan kekuatan dan kehadiran militer China di Indo-Pasifik.
Namun, menurut laporan AP News, tidak satupun dari tiga pejabat negara ini menyebut China dalam sambutannya.
Baca juga: Gempa di Sichuan China Mengakibatkan Dua Orang Tewas dan Puluhan Luka-luka
Baca juga: Biden Dikecam Partai Republik Gara-gara Afghanistan, Demokrat Balik Salahkan Trump
Tetapi aliansi keamanan baru ini kemungkinan akan dilihat sebagai langkah provokatif oleh Beijing.
Diketahui China beberapa kali mengecam Biden ketika Presiden AS ini ingin memfokuskan kebijakan luar negerinya di Pasifik pada awal masa kepresidenan.
Sebelum pengumuman, seorang pejabat senior pemerintah berusaha mengecilkan dugaan bahwa aliansi itu dimaksudkan untuk melawan China.
Bicara dengan syarat anonim, pejabat itu mengatakan aliansi tidak ditujukan kepada sebuah negara, melainkan sebagai upaya pertahanan di Indo-Pasifik.
Sebagai hasil dari pakta tersebut, Australia telah membatalkan kesepakatan membangun kapal selam yang dirancang Prancis.
Sebelumnya, Prancis memenangkan kontrak senilai 50 miliar dolar Australia untuk membangun 12 kapal selam untuk Angkatan Laut Australia pada 2016.
Kesepakatan itu merupakan kontrak pertahanan terbesar yang pernah ada di Australia.
Namun proyek tersebut mengalami penundaan.
Penundaan terjadi salah satu faktor besarnya karena Canberra mengharuskan komponen dipasok secara lokal.
Pada Rabu lalu, Presiden AS Joe Biden, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, dan PM Australia Scott Morrison mengeluarkan pernyataan bersama tentang peluncuran kemitraan keamanan baru, yang diberi label AUKUS.
"Sebagai inisiatif pertama di bawah AUKUS, kami berkomitmen pada ambisi bersama untuk mendukung Australia dalam memperoleh kapal selam bertenaga nuklir untuk Angkatan Laut Australia," kata pernyataan itu.
"Kemampuan ini akan mendorong stabilitas di Indo-Pasifik dan akan digunakan untuk mendukung nilai dan kepentingan bersama kita," katanya.
Ketiga negara telah sepakat untuk berbagi informasi di berbagai bidang termasuk kecerdasan buatan, siber, dan kemampuan pertahanan bawah laut.
PM Johnson mengatakan, Inggris, AS, dan Australia merupakan sekutu alami.
Sehingga aliansi yang baru terbentuk ini akan membawa ketiga negara lebih dekat lagi.
"Kemitraan ini akan menjadi semakin penting untuk membela kepentingan kami, dan melindungi orang-orang kami di rumah," katanya.
Diketahui beberapa pekan terakhir, kapal induk HMS Queen Elizabeth dari Inggris telah dikerahkan ke kawasan Indo-Pasifik bersama personel dan peralatan dari AS.
Baca juga: Australia Beli Tambahan 1 Juta Dosis Vaksin Moderna dari Uni Eropa
Baca juga: Diplomat Inggris Ungkap Pembongkaran Kubah dan Menara Masjid Tertua di Qinghai China
Pernyataan bersama itu menyebut bahwa Indo-Pasifik adalah wilayah dengan titik nyala potensial, sengketa teritorial yang belum terselesaikan, ancaman terorisme, dan masalah dengan kejahatan terorganisir.
"Ini berada di garis depan tantangan keamanan baru, termasuk di dunia maya," bunyi pernyataan tersebut.
Pengumuman aliansi keamanan baru ini datang ketika hubungan AS-China memburuk.
Pekan lalu, Biden dan Xi Jinping bicara melalui sambungan telepon dimana Presiden China itu dilaporkan menyatakan keprihatinan bahwa kebijakan AS terhadap China membuat hubungan kedua negara memburuk.
(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.