Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
TribunNews | PON XX Papua
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Perusahaan Jepang Mulai Periksa Kemungkinan Risiko Bisnis di Bidang HAM

Perusahaan Jepang akan menyelidiki apakah bahan baku yang diproduksi di bawah lingkungan kerja yang keras (melanggar HAM).

Perusahaan Jepang Mulai Periksa Kemungkinan Risiko Bisnis di Bidang HAM
KONTAN
Panen tandan buah segar kelapa sawit. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Perusahaan Jepang mulai memeriksa kemungkinan risiko bisnis di bidang hak asasi manusia (HAM) dan memeriksa rantai pasokan bahan dasar di mana pun termasuk di Indonesia.

"Ada kecenderungan tekanan kuat aktivitas HAM kepada bisnis dunia sehingga kini perusahaan Jepang mulai melakukan penyelidikan dan wawancara langsung ke sumber bahan bakunya, keterkaitan dengan hak asasi manusia yang dilakukan di lokasi bahan baku tersebut," papar sumber Tribunnews.com, Senin (20/9/2021).

Asahi Group Holdings, sebuah perusahaan minuman besar, akan mewawancarai pemasok biji kopi di luar negeri pada akhir tahun.

Dan Kao, sebuah perusahaan kebutuhan sehari-hari utama, memiliki sekitar 100.000 minyak sawit yang digunakan sebagai bahan baku deterjen dan sampo di Indonesia dan negara-negara lain.

"Kami sedang dalam proses memeriksa peternakan dan akan menyelesaikannya pada tahun 2025, empat tahun kemudian," ungkap sumber itu.

Perusahaan Jepang yang berekspansi secara global juga sangat memperhatikan risiko hak asasi manusia dalam berbisnis, dan gerakan untuk memeriksa rantai pasokan secara menyeluruh akan terus menyebar.

Perusahaan Jepang akan menyelidiki apakah bahan baku yang diproduksi di bawah lingkungan kerja yang keras (melanggar HAM) termasuk dalam produk yang mereka tangani.

Baca juga: Keberadaan Bakmi Instan Pernah Ditolak Masyarakat Jepang

Suntory Holdings, sebuah perusahaan minuman besar, sedang melakukan wawancara langsung dengan pemasok anggur luar negeri untuk melihat apakah ada di antara mereka yang diproduksi di lingkungan kerja yang keras.

Setelah kunjungan ke pelanggan di Amerika Selatan dan Chili tahun lalu, perusahaan ingin melakukan wawancara di Spanyol dan Argentina untuk mengidentifikasi risiko hak asasi manusia.

"Ada minat yang tumbuh pada hak asasi manusia gara-gara ada masalah Daerah Otonomi Uygur Xinjiang di China. Penting untuk membuat sistem karena ada kemungkinan dapat menyebabkan kerugian pada merek barang nantinya," kata Tetsuichiro Akashi, Kepala Penanggung jawab Suntory.

Sementara itu beasiswa (ke Jepang), belajar gratis di sekolah bahasa Jepang di Jepang, serta upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif melalui aplikasi zoom terus dilakukan bagi warga Indonesia secara aktif dengan target belajar ke sekolah di Jepang. Info lengkap silakan email: info@sekolah.biz dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas