Tribun

Virus Corona

Pemulihan Covid-19 di Indonesia Urutan Pertama Se-Asia Tenggara Menurut Indeks Nikkei

Pemulihan Covid-19 di Indonesia mendapat apresiasi dari banyak kalangan dari dalam dan luar negeri.

Editor: Hasanudin Aco
Pemulihan Covid-19 di Indonesia Urutan Pertama Se-Asia Tenggara Menurut Indeks Nikkei
Tribunnews/HO/Biro Pers Setpres/Muchlis Jr
Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang disuntik vaksin Covid-19 dalam program vaksinasi massal secara gratis di Indonesia, di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (13/1/2021) pagi. Vaksin yang disuntikkan kepada Presiden Jokowi adalah vaksin CoronaVac buatan Sinovac Life Science Co Ltd yang bekerja sama dengan PT Bio Farma (Persero). Sebelum disuntik vaksin, Presiden Jokowi terlebih dahulu melakukan pendaftaran dan verifikasi data, serta penapisan kesehatan, antara lain pengukuran suhu tubuh dan tekanan darah. Vaksinasi tersebut menjadi titik awal pelaksanaan vaksinasi nasional di Indonesia sebagai salah satu upaya penanganan pandemi Covid-19. Tribunnews/HO/Biro Pers Setpres/Muchlis Jr 

China melorot dari posisi teratas

China tergelincir dari peringkat pertama Indeks Pemulihan Covid-19 Nikkei menjadi kesembilan dalam edisi terbaru.

Pendekatan nol toleransi Covid-19 dari negara ekonomi terbesar kedua di dunia ini, disebut memperlambat pemulihannya ke kehidupan normal.

China menempati posisi teratas sejak indeks pertama kali diterbitkan pada Juli, berkat jumlah kasus yang rendah dan tingkat vaksinasi yang tinggi.

Tetapi skor mobilitas China tetap rendah, dengan peringkat ke-105 dari 121 dalam indeks pada September. Sementara negara-negara lain mengejar dalam dua kategori yang tersisa.

Menurut data resmi, China memberikan lebih dari 2,2 miliar dosis vaksin Covid-19, yang secara penuh menginokulasi lebih dari 70 persen populasinya.

Namun demikian, negara ini mempertahankan kontrol perbatasan yang ketat dan pembatasan mobilitas.

China telah mengunci kota dan daerah pedesaan setiap kali ada kasus yang dikonfirmasi. Kebijakan ini juga membuatnya membatasi jumlah penerbangan dari luar negeri.

Selain itu, “Negeri Tirai Bambu” memiliki periode karantina yang panjang, hingga tiga atau empat minggu pada pelancong yang masuk.

Penerbangan internasional ke China turun lebih dari 90 persen pada September dibandingkan dengan tingkat pra-pandemi, menurut Cirium, sebuah perusahaan data dan analitik penerbangan.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas