Tribun

Konflik Rusia Vs Ukraina

Vladimir Putin Puji Kapal Pemecah Es Nuklir Baru yang Digadang-gadang Jadi Kekuatan Arktik Rusia

Presiden Rusia mengatakan kapal pemecah es bertenaga nuklir memiliki kepentingan strategis bagi Moskow.

Penulis: Nur Febriana Trinugraheni
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Vladimir Putin Puji Kapal Pemecah Es Nuklir Baru yang Digadang-gadang Jadi Kekuatan Arktik Rusia
thebarentsobserver.com
Rosatomflot, anak perusahaan Rosatom mengatakan galangan kapal Rusia Zvezda telah memulai pembangunan kapal pemecah es nuklir kelas pertama yang akan diberi nama 'Russia'. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni

TRIBUNNEWS.COM, MOSKOW - Presiden Vladimir Putin pada Selasa (22/11/2022) menggembar-gemborkan kekuatan Arktik Rusia pada upacara bendera dan peluncuran dok untuk dua kapal pemecah es bertenaga nuklir yang akan menjelajahi perairan di Arktik Barat.

Melalui tautan video dari Kremlin, Putin memimpin upacara dan peluncuran dok yang diadakan di Kota St Petersburg.

Presiden Rusia mengatakan kapal pemecah es bertenaga nuklir memiliki kepentingan strategis bagi Moskow.

“Kedua kapal pemecah es itu dibangun sebagai bagian dari proyek serial besar dan merupakan bagian dari pekerjaan sistematis berskala besar kami untuk memperlengkapi kembali dan melengkapi armada kapal pemecah es domestik, untuk memperkuat status Rusia sebagai kekuatan Arktik yang hebat,” kata Putin, yang dikutip dari Al Jazeera.

Baca juga: Kejaksaan Ukraina Temukan Empat Tempat yang Diduga Digunakan Pasukan Rusia Sebagai Ruang Penyiksaan

Wilayah Arktik memiliki kepentingan strategis yang lebih besar akibat perubahan iklim, sehingga lapisan es yang menyusut membuka jalur laut baru.

Sumber daya minyak dan gas yang luas terletak di kawasan Arktik Rusia, termasuk pabrik gas alam cair di Semenanjung Yamal.

Putin berjanji untuk mengembangkan armada nuklir negaranya meskipun ada kesulitan saat ini dalam ekonomi dan produksi Rusia, serta sanksi Barat atas serangan Moskow di Ukraina.

“Kami akan meningkatkan kemampuan armada pemecah es nuklir kami,” ujar Putin.

Dia mengatakan produksi armada pemecah es nuklir Rusia harus dicapai “dengan menggunakan peralatan dan komponen rumah tangga”.

Pemimpin Rusia itu menambahkan, Moskow "terbuka untuk bekerja sama dengan mitra kami" dan "terlepas dari kesulitan saat ini, kami pasti akan melaksanakan semua yang telah kami rencanakan".

Putin tersenyum saat kapal pemecah es nuklir Yakutia diluncurkan ke perairan di dermaga dan berdiri saat lagu kebangsaan Rusia menghiasi pengibaran bendera Rusia di kapal pemecah es Ural, yang akan mulai bekerja pada Desember.

Dua kapal pemecah es lainnya dalam seri yang sama, Arktika dan Sibir, sudah beroperasi, dan satu lagi, Chukotka, dijadwalkan meluncur ke perairan pada 2026.

Baca juga: Rusia dan China Bela Korea Utara soal Peluncuran Rudal Antarbenua

Putin mengatakan, kapal pemecah es nuklir super kuat sepanjang 209 meter yang dikenal sebagai "Rossiya", dengan berat hingga 71.380 ton, akan selesai pada 2027. Kapal Rossiya diklaim mampu menembus es setebal empat meter.

“Mereka diperlukan untuk studi dan pengembangan Arktik, untuk memastikan navigasi yang aman dan berkelanjutan di wilayah ini, untuk meningkatkan lalu lintas di sepanjang Rute Laut Utara,” ungkap Pemimpin Rusia.

“Pengembangan koridor transportasi terpenting ini akan memungkinkan Rusia untuk lebih membuka potensi ekspornya dan membangun rute logistik yang efisien, termasuk ke Asia Tenggara,” sambungnya.

Baca juga: Rusia Tuduh Tentara Ukraina Bunuh Tawanan Perang

Putin, yang berkuasa sejak 1999 berjanji untuk mengakhiri kekacauan yang dipicu oleh runtuhnya Uni Soviet, diam-diam telah memperkuat kehadiran Rusia di Kutub Utara, di mana Rusia memiliki garis pantai lebih dari 24.000 kilometer (15.000 mil), yang membentang dari Laut Barents ke Laut Okhotsk.

Sejak 2005, Rusia telah membuka kembali puluhan pangkalan militer era Soviet di Arktik, memodernisasi angkatan lautnya, dan mengembangkan rudal hipersonik baru yang dirancang untuk menghindari sensor dan pertahanan AS.

Pakar Arktik mengatakan Barat membutuhkan waktu setidaknya 10 tahun untuk mengejar ketinggalan dari militer Rusia di wilayah tersebut, jika mereka berusaha untuk menyaingi kehadiran Moskow di Arktik.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas