RQ-170 Sentinel: Drone Rahasia Amerika yang Membantu Menjatuhkan Maduro
Lockheed Martin mengonfirmasi drone rahasia RQ-170 Sentinel berperan dalam operasi militer AS di Venezuela.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Wahyu Gilang Putranto
Pesawat nirawak RQ-170 berteknologi siluman ini juga pernah dikerahkan ke Korea Selatan, dari mana kemungkinan besar melakukan penerbangan sangat dekat dengan wilayah udara Korea Utara.
Pesawat ini juga dilaporkan pernah dikerahkan di wilayah lain di kawasan Pasifik.
Antara 2022 dan 2023, pesawat nirawak Sentinel diduga melakukan misi di kawasan Laut Hitam untuk mengumpulkan intelijen tentang pasukan Rusia di Semenanjung Krimea yang diduduki dan dijaga ketat.
Citra satelit yang tersedia melalui Apple Maps, yang menunjukkan sebuah RQ-170 di Pangkalan Udara Angkatan Laut Sigonella, Italia, memberikan kredibilitas tambahan terhadap laporan tersebut.
Sigonella telah lama menjadi pusat penerbangan intelijen, pengawasan, dan pengintaian di atas Laut Hitam.
Tidak diketahui secara pasti kapan citra tersebut diambil, tetapi diduga berasal dari periode yang relevan berdasarkan kondisi konstruksi yang terlihat di area lain pangkalan tersebut.
Kabar Terbaru Venezuela setelah Penangkapan Maduro
Mengutip CBS News, sejak penangkapan Maduro, Venezuela diperintah oleh Presiden sementara Delcy Rodríguez, yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden Maduro dan kemudian dilantik oleh Majelis Nasional sebagai presiden.
Tanpa menggulingkan sepenuhnya sisa-sisa rezim Maduro, termasuk para pejabat yang telah didakwa dan dikenai sanksi oleh Amerika Serikat, pemerintahan Trump berupaya bekerja sama dengan mereka dengan memanfaatkan pembatasan ketat AS terhadap ekspor minyak Venezuela sebagai alat tekanan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan kepada para senator pada Rabu (28/1/2029) bahwa pemerintahan Trump tidak berencana mengambil tindakan militer lebih lanjut di Venezuela.
Ia menyatakan, “Satu-satunya kehadiran militer yang akan Anda lihat di Venezuela adalah penjaga Marinir kami di sebuah kedutaan,” merujuk pada kemungkinan untuk membangun kembali kehadiran diplomatik Amerika Serikat di ibu kota Venezuela, Caracas.
Sementara itu, pemimpin oposisi Venezuela, María Corina Machado, yang partainya memenangkan pemilihan 2024, mengatakan kepada program “Face the Nation” bahwa meskipun belum ada jadwal yang jelas untuk pemilihan baru, ia meyakini transisi dari sisa-sisa rezim Maduro tidak dapat dihentikan.
Ia berpendapat bahwa setiap perubahan positif yang dilakukan oleh pemerintah sementara terjadi karena tekanan dari pemerintahan Trump, tetapi pada akhirnya mungkin tidak memiliki kekuatan hukum.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan