Jepang dan Australia Tolak Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz Meski Diminta Donald Trump
Jepang dan Australia menolak kirim kapal perang ke Selat Hormuz meski Trump desak sekutu buka jalur vital energi dunia.
Editor:
Glery Lazuardi
Ringkasan Berita:
- Jepang dan Australia menegaskan tidak akan mengirim kapal perang ke Selat Hormuz meski diminta Presiden AS Donald Trump.
- Trump menekan sekutu untuk menjaga jalur vital energi dunia di tengah perang AS–Israel melawan Iran.
- Jepang terikat konstitusi damai, sementara Australia menyebut tidak diminta berkontribusi.
TRIBUNNEWS.COM - Jepang dan Australia menegaskan pada Senin (16/3) bahwa mereka tidak berencana mengirim kapal perang ke Timur Tengah untuk mengawal pelayaran di Selat Hormuz, meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak sekutu-sekutunya membentuk koalisi guna membuka kembali jalur vital tersebut.
Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat memasuki pekan ketiga perang AS–Israel melawan Iran.
Trump menegaskan bahwa negara-negara yang bergantung pada minyak dari Teluk memiliki tanggung jawab menjaga Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20 persen energi dunia.
“Kami menuntut negara-negara ini turun tangan dan melindungi wilayah mereka sendiri, karena itu adalah wilayah dari mana mereka mendapatkan energi,” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One dalam perjalanan dari Florida ke Washington.
Trump menyebut sudah menghubungi tujuh negara, meski tidak merinci siapa saja.
Dalam unggahan akhir pekan, ia berharap Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara lain ikut serta.
Namun, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan negaranya tidak akan mengirim kapal perang karena keterbatasan konstitusi yang menolak perang.
“Kami belum membuat keputusan apa pun terkait pengiriman kapal pengawal. Kami masih mengkaji apa yang bisa dilakukan Jepang secara mandiri dan sesuai kerangka hukum,” ujar Takaichi di parlemen.
Australia, sekutu utama AS di Indo-Pasifik, juga menolak.
“Kami tahu betapa pentingnya hal itu, tetapi bukan sesuatu yang diminta kepada kami atau yang akan kami kontribusikan,” kata Catherine King, anggota kabinet Perdana Menteri Anthony Albanese, dalam wawancara dengan ABC.
Sementara itu, Trump menekan Tiongkok agar membantu membuka kembali Selat Hormuz sebelum pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping di Beijing akhir bulan ini. Ia bahkan mengancam menunda kunjungan bila Tiongkok tidak memberi dukungan.
“Saya pikir Tiongkok juga harus membantu karena 90 persen minyaknya berasal dari Selat itu,” kata Trump. “Kami mungkin menunda,” tambahnya.
Di sisi lain, Uni Eropa masih membahas kemungkinan memperkuat misi kecil angkatan laut di Timur Tengah, namun belum ada keputusan memperluas operasi hingga ke Selat Hormuz. Inggris, Kanada, dan Korea Selatan menyatakan akan meninjau permintaan Trump dengan hati-hati.
Perang Iran juga telah mengganggu perjalanan udara global, memaksa ribuan penerbangan dibatalkan dan menimbulkan kekhawatiran pasokan bahan bakar jet.
Serangan drone terus menargetkan fasilitas energi di Teluk, termasuk kebakaran di Bandara Dubai dan intersepsi puluhan drone di Arab Saudi.
Baca tanpa iklan