49 Hari Internet di Iran Terputus, Anggota Parlemen: Bukan Kepentingan Negara
Iran mengalami pemadaman internet nasional selama 49 hari dengan konektivitas hanya sekitar 2 persen dari kondisi normal.
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Whiesa Daniswara
Ia juga memperingatkan bahwa tekanan finansial mulai memengaruhi kemampuan perusahaan dalam membayar gaji karyawan.
Dari sisi pelaku usaha, Afshin Kolahi, kepala komisi bisnis, menyatakan pada 14 April 2026 bahwa kerugian langsung akibat pemadaman internet mencapai 30 hingga 40 juta dolar AS per hari.
Ia menambahkan, jika dampak tidak langsung diperhitungkan, kerugian tersebut meningkat menjadi 70 hingga 80 juta dolar AS per hari.
Gangguan berkepanjangan ini tidak hanya berdampak pada perusahaan besar, tetapi juga usaha kecil dan pekerja lepas yang bergantung pada platform digital untuk memperoleh penghasilan.
Dampak Sosial
Mengutip laporan The Guardian pada awal Maret 2026, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia atau HRANA menyatakan bahwa pemadaman internet telah menghambat warga Iran dalam mengakses informasi, mengoordinasikan bantuan kemanusiaan, serta memeriksa kondisi keluarga mereka.
Selama konflik militer, gangguan internet bukan sekadar masalah teknis, melainkan berdampak langsung pada aliran informasi, kemampuan verifikasi di lapangan, akses terhadap informasi keselamatan, serta komunikasi antaranggota keluarga.
“Transparansi dan akses terhadap informasi sangat penting untuk perlindungan sipil dan distribusi bantuan kemanusiaan yang efektif,” demikian pernyataan tersebut.
HRANA menegaskan bahwa pemerintah Iran memiliki kewajiban berdasarkan hukum hak asasi manusia untuk menjamin akses terhadap informasi.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan