Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Perang Iran Sedot Stok Rudal Patriot, Rusia Manfaatkan Celah Pertahanan Ukraina

Perang Iran menguras stok rudal Patriot hingga sepertiga. Rusia manfaatkan celah itu untuk gempur Ukraina.

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Laporan terbaru menyebut Iran masih menembakkan dua rudal balistik ke arah Kuwait pada awal pekan ini.

Situasi tersebut membuat negara-negara yang bergantung pada Patriot harus bersaing memperebutkan pasokan yang semakin terbatas.

Patriot Jadi Senjata Paling Diburu

Patriot bukan sekadar sistem pertahanan udara biasa.

Sistem MIM-104 Patriot buatan Raytheon dan Lockheed Martin selama ini dianggap sebagai perlindungan paling efektif untuk menghadapi rudal balistik jarak jauh.

Baca juga: Ukraina Siaga Penuh, Zelenskyy: Serangan Besar Rusia Bisa Datang dalam Waktu Dekat

Berbeda dengan sistem pertahanan udara lain yang lebih cocok menghadapi drone atau rudal jelajah, Patriot dirancang untuk menghancurkan target berkecepatan tinggi yang terbang di ketinggian besar.

Karena kemampuan itulah Ukraina sangat bergantung pada Patriot untuk melindungi Kyiv dan kota-kota utama lainnya.

Setiap baterai Patriot memiliki nilai sekitar 1 miliar dolar AS.

Rekomendasi Untuk Anda

Sementara satu rudal pencegatnya bernilai sekitar 3 juta dolar AS.

Biaya yang mahal membuat banyak negara selama bertahun-tahun hanya menyimpan stok terbatas karena tidak memperkirakan akan menghadapi perang besar berkepanjangan.

NATO Ikut Hadapi Risiko

Krisis ini tidak hanya menjadi masalah Ukraina.

Beberapa negara anggota NATO seperti Jerman, Belanda, Yunani, Spanyol, Polandia, dan Swedia juga mengoperasikan Patriot sebagai tulang punggung pertahanan udara mereka.

Mark Cancian dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan situasi saat ini menciptakan apa yang disebut sebagai "window of vulnerability" atau jendela kerentanan.

"Kami tahu negara-negara Teluk telah menggunakan sebagian besar persediaan mereka. Akibatnya negara-negara yang membutuhkan sekarang harus bersaing memperebutkan stok yang terus menurun," ujarnya.

Cancian menilai masalah terbesar bukan hanya jumlah rudal yang telah ditembakkan.

Masalah utama adalah lambatnya proses penggantian persediaan yang sudah habis.

Produksi Tak Mampu Kejar Kebutuhan Perang

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas