Tribun Kesehatan

Waduh, Ada Kandungan Formalin Pada Semua Sampel Ikan Asin di Pasar Tradisional Purbalingga

”Sampel ikan kering yang diambil di Pasar Hartono meliputi teri jengki, belahan bloso, pedo, cumi kering, teri nasi, dan kemaron."

Editor: Choirul Arifin
Waduh, Ada Kandungan Formalin Pada Semua Sampel Ikan Asin di Pasar Tradisional Purbalingga
KOMPAS.com/Dok. Humas Pemkab Purbalingga
Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Semarang melakukan pengambilan sampel ikan dan cumi kering di Pasar Hartono dan Pasar Segamas, Purbalingga, Jawa Tengah, Senin (20/5/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, PURBALINGGA - Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Semarang menemukan ikan dan cumi kering yang positif mengandung formalin di Pasar Hartono dan Pasar Segamas, Purbalingga, Jawa Tengah, Senin (20/5/2019).

Analis Mutu BKIPM Semarang, Neni mengatakan hasil uji klinis yang dilakukan di laboratorium BKIPM Semarang menunjukkan dari seluruh sampel ikan kering yang didapatkan, positif mengandung formalin.

”Sampel ikan kering yang diambil di Pasar Hartono meliputi teri jengki, belahan bloso, pedo, cumi kering, teri nasi, dan kemaron. Sedangkan sampel yang diambil di Pasar Segamas yakni pedo merah, teri nasi, ebi, pedo kering dan jambal aroma,” katanya.

Neni mengungkapkan, hasil uji klinis yang dikeluarkan Selasa (21/5/2019), menunjukkan adanya kandungan formalin dari teri jengki sebesar 0,25 mikrogram per liter (mg/l). 

Baca: Gantikan Cikarang Utama, Gerbang Tol Cikampek Utama Mulai Beroperasi 23 Mei

Kemudian di belahan ikan bloso sebesar 0,8 mg/l, pedo sebesar 0,6 mg/l, cumi kering sebesar 0,8 mg/l, teri nasi sebesar 1,5 mg/l , dan kemaron sebesar 0,25 mg/l.

Sedangkan untuk kandungan formalin pada ikan kering dari Pasar Segamas yaitu pedo merah sebesar 0,4 mg/l, teri nasi sebesar 0,6 mg/l, ebi sebesar 0,25 mg/l, pedo sebesar 0,6 mg/l, dan jambal aroma sebesar 0,25 mg/l.

Baca: Pernyataan Sikap 100 Jenderal Purnawirawan TNI-Polri: Kedaulatan Rakyat Telah Dirampas

Menurutnya, formalin seringkali digunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mengawetkan makanan.

Pengawetan ini dilakukan agar makanan tidak mudah busuk dan memiliki tekstur yang kenyal dan tidak mudah hancur.

“Namun apabila dikonsumsi secara terus menerus akan menimbulkan efek yang berbahaya bagi kesehatan,” katanya. 

Baca: Kisah Tentang Suradi, Pengangguran Yang Punya Warisan Lahan 2000 M2 untuk Kolam Ikan dan Lobster

Terkait temuan tersebut, BKIPM mengambil beberapa langkah yakni melakukan koordinasi dengan DKPP dan Dinas Kesehatan Purbalingga untuk melakukan monitoring terpadu terkait mutu dan keamanan produk perikanan di Pasar Tradisional yang ada di Purbalingga.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas