Tribun Kesehatan

Empat Perbedaan Antara Orang Dewasa dengan Anak Saat Terinfeksi HIV

Berbeda dengan orang dewasa, anak yang terinfeksi HIV, sebanyak 90 persen ditularkan dari ibu ke bayi

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: Eko Sutriyanto
Empat Perbedaan Antara Orang Dewasa dengan Anak Saat Terinfeksi HIV
Freepik
Ilustrasi virus HIV 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) bisa menyerang siapa saja baik orang dewasa mau pun anak-anak.

Namun ada beberapa yang hal yang membedakan antara anak-anak yang terinfeksi dengan orang dewasa.

Hal ini diungkapkan oleh dr Endah Citraresmi, Sp A (K) MARS. dari RSAB Harapan Kita Jakarta.

Pertama adalah cara penularannya.

Berbeda dengan orang dewasa, anak yang terinfeksi HIV, sebanyak 90 persen ditularkan dari ibu ke bayi.

Menurut dr Endah, sebenarnya agar anak tidak terinfeksi HIV cukup mudah untuk dicegah. Namun langkah awal yang harus dilakukan adalah mengetahui ibu hamil positif HIV atau tidak. 

Baca juga: 5 ODGJ di Kabupaten Tulungagung Juga Menderita HIV/Aids, 2 di Antaranya Meninggal Dunia

Sehingga dapat mengambil tindakan secepat mungkin untuk mencegah penularan. Program mendeteksi terhadap ibu hamil terinfeksi HIV atau tidak menjadi sangat penting.

Kedua, biasanya virus menginfeksi bayi saat baru dilahirkan. Saat baru lahir, sistim imun belum berkembang. Sehingga infeksi yang terjadi lebih berat. 

Ketiga, anak yang terinfeksi HIV lebih cepat menunjukkan gejala. Bahkan dalam usia beberapa bulan kehidupan sudah ada gejala. 

"Ada anak dengan usia dua bulan, tiga bulan datang dengan diare lama, gizi buruk, pneumonia berulang. Sedang kan kalau di dewasa, karena daya tahan tubuh lebih baik," ungkapnya lewat siaran Radio Kesehatan, Jumat (3/12/2021).

Orang dewasa sebagian besar memiliki imun yang kuat sehingga infeksinya laten baru muncul 10 tahun kemudian. ketiga, anak yang terinfeksi HIV, kemudian mengalami beberapa infeksi dan gejala berat.

Sehingga dapat menganggu tumbuh kembang anak. Ia pun bisa tumbuh menjadi anak yang bermasalah pada sekolahnya.

"Kualitas hidupnya berkurang dan sulit mencari kerja," katanya. 

  Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas