Tribun

Dana Desa Bantu Tingkatkan Kualitas Hidup Warga Desa Cupunagara

Nantinya dana desa ini akan digunakan untuk mendanai kebutuhan desa dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dan demi memajukan perekonomian desa.

Editor: Content Writer
zoom-in Dana Desa Bantu Tingkatkan Kualitas Hidup Warga Desa Cupunagara
dok. Kemendes PDTT
Petani kopi Desa Cupunagara. 

Upaya peningkatan ekonomi bangsa, seyogyanya haruslah dimulai dari desa. Hal ini mengingat Indonesia memiliki puluhan ribu desa dengan warga desa yang masih hidup dalam keterbatasan. Perekonomian bangsa akan menjadi kuat, bila warga desa mampu menemukan keunggulan desanya dan mengembangkan keunggulan desa tersebut menjadi sumber pendapatan yang mampu menghidupi desa dan warganya.

Hal ini sejalan dengan tujuan diberikannya dana desa dari pemerintah pusat kepada desa. Dengan dana desa, warga desa dibantu untuk menemukan dan mengembangkan potensi keunggulan desanya agar desa mampu menghidupi warganya.    

Desa Cupunagara, Kecamatan Cisalak Kabupaten Subang misalnya, telah memanfaatkan dana desa untuk meningkatkan kualitas hidup warganya. Dengan dana desa, warga membentuk BUMDes Mukti Raharja yang telah membuka lapangan kerja baru dan memberikan penghasilan kepada warga desa.

"Sejak adanya BUMDes ini, warga desa mulai melek soal bisnis, dan usaha, karena sebelumnya mereka bekerja serabutan. Kami juga terus mengajak masyarakat buat terlibat dalam proses pengemasan kopi, sehingga BUMDes ini menjadi ajang lapangan kerja buat masyarakat, dengan upah kisaran Rp 300.000 per minggu," ujar Risma Wahyuni Hidayat, Kepala BUMDes Mukti Raharja.

Tak hanya itu, keuntungan BUMDes selain menambah lapangan kerja, dapat menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) sekitar 5% untuk dana sosial.

Dari pembukaan lapangan kerja, dana desa juga membantu petani kopi menghemat biaya atau ongkos angkut sayuran dari desa ke pasar Lembang karena kondisi jalan desa yang mulai diperbaiki. Dari tahun 2015 hingga 2018, sepanjang 15 km jalan sudah di aspal dari total panjang jalan desa 35km. Sehingga masih 20km yang harus di aspal.

Perubahan ini dirasakan sangat signifkan terhadap perekonomian warga. Karena mayoritas warga merupakan petani sayuran, ongkos angkut distribusi sayuran pun menurun.

"Ongkos angkut perkilonya dari 1000 perkilo, sekarang 500 per kilo. Hal tersebut menjadi suatu keuntungan bagi petani karena tarif distribusi sayuran turun 50%," ujar Wahidin Hidayat, Kepala Desa Cupunagara di Desa Cupunagara, Rabu (19/9/2018).

Satu dari warga Desa Cupunagara, Jajang Saripudin (42), mengatakan semenjak adanya perbaikan jalan, ia merasakan kemudahan untuk pendistribusian hasil tani. Jajang bekerja sebagai petani sayuran dan kopi.

"Sejak ada dana desa, pembangunan infrastruktur lebih berkesinambungan, seperti jalan tadinya berbatu tanah, apalagi musim hujan banyak kecelakaan. Walaupun belum sebagian besar, tapi ini sangat membantu terutama ongkos," ujar Jajang Saripudin.

Selain itu, dana desa juga digunakan untuk pengadaan dan pemeliharaan fasilitas kesehatan berupa revitalisasi posyandu serta pemenuhan fasilitas kesehatan seperti tempat tidur dan poster penyuluhan untuk masyarakat. Rencananya, setelah pemeliharaan dan pembangunan pos yandu, akan ada ambulan desa, untuk mengangkut pasien kegawat daruratan.

Kualitas hidup warga desa juga meningkat dengan adanya pembangunan saluran air atau drainase. Sebelumnya, warga desa tidak memiliki saluran pembuangan air kotor sehingga rawan terkena penyakit.

Peningkatan kualitas hidup warga Desa Cupunagara juga ditandai dengan hadirnya air gallon layak minum yang diproduksi oleh BUMDes Mukti Raharja.

Walaupun dekat dengan mata air, warga Desa Cupunagara selama ini belum semuanya terpenuhi kebutuhan air layak minumnya. Dengan hadirnya BUMDEs, warga desa sekarang bisa membeli air layak minum gallon untuk keluarga. Sebelumnya masyarakat Desa Cupunagara membeli air layak minum di pasar dengan harga Rp 15.000 hingga Rp 20.000.

BUMDes Mukti Raharja melalui unit usaha air gallon berhasil mengolah air layak minum dan dijual dengan harga murah kepada warga desa.

“Kalau beli di pasar, air minum gallon harganya Rp. 15.000-20.000 per gallon. Sekarang kami warga desa beralih membeli air gallon di BUMDes karena selain rasanya sama dengan yang sebelumnya kami minum, harganya juga murah hanya Rp. 7.000 per gallon dan bahkan diantar sampai ke rumah”,  ujar Jajang Saripudin.

Kini, BUMDes mengelola air layak minum berupa air isi ulang galon, dan mempekerjakan masyarakat sekitar, dengan upah Rp 500.000 perbulannya.

“Warga desa Cupunagara yang sebelumnya kerjanya serabutan, sekarang sudah bisa memiliki penghasilan Rp. 500 ribu per bulan dengan membantu mengolah air layak minum galonan,” ujar Risma.

 “Dengan adanya BUMDes, ibu-ibu rumah tangga menjadi semakin produktif, yang biasanya tidak memiliki penghasilan, sekarang sudah punya penghasilan. Warga yang tadinya belum menanam kopi, sekarang pun sudah mulai mencoba menanam kopi,” tambah Jajang. (*)

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas