Tribun

Bursa Capres

Survei: Mayoritas Pemilih Parpol Besar Ingin Ketua Umumnya Maju di Pilpres 2024

Polstat melakukan survei tentang preferensi publik menjelang pemilu legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) 2024.

Penulis: Mario Christian Sumampow
Editor: Malvyandie Haryadi
zoom-in Survei: Mayoritas Pemilih Parpol Besar Ingin Ketua Umumnya Maju di Pilpres 2024
Kolase Tribunnews.com
Ilustrasi tokoh potensial sebagai capres di 2024: Prabowo Subianto, Puan Maharani, Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono. 

Laporan Wartawann Tribunnews, Mario Christian Sumampow

TRIBUNNEWS.CM, JAKARTA - Lembaga survei Political Statistics (Polstat) melakukan survei tentang preferensi publik menjelang pemilu legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) 2024.

Survei menyatakan mayoritas pemilih atau konstituen partai besar dari PDI Perjuangan, Golkar, Gerindra, dan Partai Demokrat masing-masing mengharapkan tokoh sentral partainya untuk maju nyapres.

Tokoh sentra dalam hal ini adalah para Ketua Umum (ketum) masing-masing partai, yaitu: Puan Maharani, Airlangga Hartarto, Prabowo Subianto, hingga Agus Harimurty Yudhoyono (AHY).

Berdasarkan analisis cross-tabulation atas hasil survei yang dilakukan POLSTAT, sebanyak 52,9 persen responden yang mengaku pemilih PDI Perjuangan menginginkan Ketua DPR RI Puan Maharani maju sebagai capres pada Pilpres 2024 nanti.

Kemudian sebanyak 89,8% pemilih Partai Gerindra mendukung pencalonan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dalam kontestasi Pilpres 2024.

Baca juga: Nama Anies Baswedan Masuk Radar Majelis Tinggi Partai Demokrat sebagai Capres 2024

Sementara, sebanyak 68,7% responden yang menyatakan memilih Partai Golkar mengharapkan Menteri Perekonomian Airlangga Hartarto juga ikut maju dalam kandidasi pemilihan presiden 2024. Kemudian, Partai Demokrat sebanyak 67,6% calon pemilihnya juga menginginkan AHY jadi Capres 2024.

Peneliti Senior POLSTAT, Zaki Darmawan menjelaskan para konstituen partai khawatir apabila tokoh sentral partainya tidak maju sebagai capres dapat berpengaruh pada merosotnya suara partai mereka pada Pileg 2024.

"Sebagai gambaran, perolehan suara Partai Golkar terus anjlok saat partai ini tidak memajukan kadernya sebagai capres atau cawapres pada Pilpres 2014 dan 2019. Pada Pilpres 2014, saat masih memiliki kader sebagai cawapres (Jusuf Kalla) Partai Golkar masih mampu meraih suara 14,75%. Namun di Pemilu 2019 suara Partai Golkar merosot menjadi 12,57% karena tak ada kadernya yang ikut kandidasi Pilpres," ujar Zaki dalam konferensi pers daring, Jumat (16/9/2022).

Zaki menilai, nasib yang sama dialami Demokrat yang absen dalam kandidat Pilpres 2014 dan 2019. Pada Pemilu 2014 suara partai besutan SBY itu terjun bebas menjadi 10,90% (pada Pemilu 2009 sebesar 20,85%).

Sementara di Pemilu 2019 perolehan suara Partai Demokrat anjlok lagi menjadi 7,77% akibat sikap netral partai tersebut dalam kontestasi Pilpres 2019.

"Di lain pihak, Partai Gerindra yang selalu mengajukan tokohnya dalam Pilpres 2009, 2014 dan 2019, terus mengalami kenaikan suara yang cukup signifikan," tutur Zaki.

Untuk diketahui, survei POLSTAT dilakukan pada tanggal 1 sampai 10 September 2022 di 34 provinsi yang ada di seluruh Indonesia. Populasi survei ini adalah seluruh penduduk Indonesia yang sudah punya hak pilih atau 17 tahun ke atas.

Jumlah sampel sebesar 1200 responden diperoleh melalui teknik pengambilan sampel secara acak bertingkat (multi-state random sampling). Batas kesalahan (margin of error)+/- 2,83% dan pada tingkat kepercayaan (level of confidence) sebesar 95%.

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara tatap muka yang dilaksanakan oleh tenaga terlatih dengan panduan kuesioner.

Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas