Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Jelang Debat Cawapres, Pengamat Bicara Pertumbuhan Ekonomi

Direktur CELIOS (Center of Economic and Law Studies) Bhima Yudhistira membeberkan sejumlah hal yang mesti dilakukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Jelang Debat Cawapres, Pengamat Bicara Pertumbuhan Ekonomi
Youtube kpu ri
Tiga alon wakil presiden (cawapres) yakni Mahfud MD, Gibran Rakabuming Raka, Muhaimin Iskandar tampak berkumpul dan berbincang pada pengujung debat calon presiden (capres) antara Anies Baswedan, Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo, di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Selasa (12/12/2023) malam. 

TRIBUNNEWS.COM - Agenda debat kedua Pilpres 2024 sebentar pagi digelar dengan membahas perekonomian.

Masing-masing calon wakil presiden (Cawapres) bakal menguraikan program dan terobosannya dalam debat yang digelar Jumat (22/12/2023) mendatang.

Direktur CELIOS (Center of Economic and Law Studies) Bhima Yudhistira membeberkan sejumlah hal yang mesti dilakukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 7 persen.

Satu di antaranya dengan mengoptimalkan berbagai sektor pendorong ekonomi.

"Pertumbuhan penting tapi pemerataan sama pentingnya," ungkap Bhima, Selasa (19/12/2023).

Baca juga: Ajudan Prabowo Ramai Dikritik, Rosan Roeslani Pertanyakan Apa Salahnya Mayor Teddy Pakai Kemeja Biru

Dia menjelaskan, ada banyak sumber pertumbuhan ekonomi yang dapat digarap untuk mengerek pertumbuhan yang berkelanjutan dan jangka panjang.

Sebut saja pengoptimalan ekonomi hijau, ekonomi biru, dan ekonomi digital.

Rekomendasi Untuk Anda

"Pertumbuhan bisa didorong dari motor ekonomi hijau dan ekonomi biru serta ekonomi digital," jelas dia.

Pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya disandarkan sepenuhnya pada eksploitasi sumber daya alam (SDA).

Sebab, lanjutnya, eksploitasi SDA yang berlebihan malah dapat berdampak pada terganggunya sektor ekonomi yang lain.

"Jangan hanya eksploitasi SDA dengan hilirisasi yang merusak sendi ekonomi hijau dan biru untuk kejar pertumbuhan tinggi jangka pendek," tegas Bhima.

Di sisi lain, pemerintah juga harus mulai meluncurkan strategi guna mengoptimalkan bonus demografi.

Hal tersebut dapat ditempuh dengan penyediaan lapangan pekerjaan dan kepastian upah laik bagi pekerja.

"Pemanfaatan bonus demografi juga mendesak dengan pembukaan lapangan kerja yang berkualitas dengan upah lebih baik," jelas dia.

"Selama formulasi upah nya masih pakai uu cipta kerja maka sulit mendorong daya beli masyarakat yang lebih tinggi. Sementara konsumsi rumah tangga porsinya cukup besar ke PDB," imbuh dia.

Halaman 1/4
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas