Anggota Dewan Prihatin Ada Bocah Penderita Gizi Buruk Tinggal di Dekat Istana Bogor
"Jangan sampai viral dimedsos dan sudah kejadian lama baru bergerak," kata anggota DPRD Kota Bogor Komisi D, Adityawarman.
Editor: Hasanudin Aco
Laporan Wartawan TribunnewsBogor.com, Lingga Arvian Nugroho
TRIBUNNEWS.COM, BOGOR - Kondisi Muhammad Arif, bocah berusia 2 tahun yang tinggal 4 kilometer dari Istana Bogor membuat anggota DPRD Kota Bogor miris.
Arif yang tinggal bersama orang tuanya di Mekar Wangi RT. 4/13, Kelurahan Rangga Mekar, Bogor Selatan, Kota Bogor, sudah mengalami gizi buruk sejak usia 1,5 tahun.
"Jangan sampai viral dimedsos dan sudah kejadian lama baru bergerak," kata anggota DPRD Kota Bogor Komisi D, Adityawarman.
Orang tua Arif memang sempat menolak anaknya dibawa ke rumah sakit.
Menurut sang ayah, kondisi tubuh Arif yang sangat kurus dan perutnya membusung merupakan faktor keturunan.
Pasalnya, dua kakaknya juga bernasib serupa.
"Kalau yang saya dengar orang tua balita ini enggak mau dibawa tapi saya harapkan orangtua juga mengerti dengan kondisi anak dan aparatur wilayah juga bisa menyampaikan dengan baik dan bisa memberikan pengertian terkait kasus-kasus seperti ini, karen kasihan anaknya," katanya.
Yang membuat Adit menjadi miris ialah bahwa selama ini baik Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat telah memfasilitasi masyarakat dengan BPJS.
Meski begitu, masih banyak sekali masyarakat yang belum mengerti soal hal tersebut.
Belum lagi banyaknya kasus yang menyulitkan warga miskin untuk berobat.
"nah disitulah pentingnya terus sosialiasi BPJS kepada masyarakat, agar mereka tidak ragu untuk ke puskesmas ataupun rumah sakit," tuturnya.
Adit menambahakan untuk warga kurang mampu atau miskin yang belum memiliki BPJS bisa menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang nantinya biayanya akan ditanggung oleh pemerintah daerah.
Untuk kasus Arif yang diduga menderita gizi buruk ini Aditya mengatakan mungkin orangtua Arif belum memahami jaminan kesehatan.
Sehingga dirinya sempat menolak saat sang anak akan dibawa ke rumah sakit.
"Itulah pentingnya sosialisasi, jadi mau ruma sakit swasta atau negeri peserta BPJS atau pengguna SKTM itu biayanya gratis, Tapi biasanya kita rujuk ke RSUD, misalkan urgent atau RSUD itu penuh bisa ke rumah sakit terdekat," katanya.