Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Pedagang Kaki Lima di Jakarta

Pengamat Curiga Ada Pihak yang Ingin Gagalkan Usaha Anies Benahi Tanah Abang, Ini 6 Alasannya

"Saya amat terkejut ketika membaca media cetak, media online serta menonton berita TV yang sangat gencar memberitakan penataan.."

Pengamat Curiga Ada Pihak yang Ingin Gagalkan Usaha Anies Benahi Tanah Abang, Ini 6 Alasannya
Alex Suban/Alex Suban
Pedagang Kaki Lima (PKL) merapikan dagangannya karena sesaat lagi Jalan Jatibaru, Tanah Abang, Jakarta Pusat, akan dibuka kembali kedua arahnya, Kamis (28/12/2017) sore. Para PKL ini diijinkan berjualan di badan Jalan Jatibaru, pada pukul 08.00-18.00 WIB. (Warta Kota/Alex Suban) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Musni Umar, Sosiolog, Rektor Universitas Ibnu Chaldun Jakarta menduga ada upaya menggagalkan penataan Tanah Abang gagasan Gubernur Anies Baswedan.

"Saya amat terkejut ketika membaca media cetak, media online serta menonton berita TV yang sangat gencar memberitakan penataan pasar Tanah Abang," kata Musni Umar melalui pesan singkatnya kepada Warta Kota, Selasa (30/1/2018).

Sebagai sosiolog yang pernah menjadi aktivis pergerakan mahasiswa di masa Orde Baru, Musni Umar menganalisa, berbagai komentar, usulan, demo dan bahkan mogok adalah murni atau ada motif untuk menggagalkan penataan pasar Tanah Abang yang dilakukan Anies-Sandi.

Baca: Polda Metro Merasa Tak Dilibatkan Pemprov DKI Atas Kebijakan Penutupan Jalan Jatibaru Raya

"Setidaknya ada enam alasan, saya patut menduga, berbagai pernyataan yang diberitakan media, dan berbagai gerakan sarat dengan muatan kepentingan untuk menggagalkan penataanpasar Tanah Abang," imbuhnya

Pertama, dalam rangka penelitian, Musni bersama tim dari Institute for Social Empowerment and Democracy (INSED) sebelum pasar Tanah Abang ditata, sudah dua kali turun di kawasan tersebut dan ia menyaksikan semrawutnya kawasan itu dan tidak layaknya blok G tempat berdagang para PKL.

Kedua, setelah pasar Tanah Abang ditata oleh Gubernur Anies dan Wagub Sandi.

"Untuk obyektifitas, saya sengaja ke pasar Tanah Abang dengan naik kendaraan umum dari Blok M. pada hari Sabtu, saat banyak warga yang berbelanja. Saya keliling di kawasan pasar Tanah Abang dari pagi sampai sore. Sebagai sosiolog dan akademisi saya berusaha obyektif," tuturnya.

"Jika baik saya katakan baik, jika tidak baik saya katakan tidak baik. Temuan saya, tidak ada penutupan jalan Jatibaru sebagaimana diberitakan media, karena bus Trans Jakarta Explorer melintasi jalan itu mengelilingi kawasan pasar Tanah Abang, tapi angkot dialihkan di jalan lain," imbuh Musni.

Ketiga, tidak ada kemacetan yang luar biasa sampai 60 persen seperti dalam pemberitaan.

"Saya coba naik bus Trans Explorer dengan gratis mengelilingi kawasan pasar Tanah Abang sampai di stasiun Kereta Api untuk memastikan bahwa penataan pasar Tanah Abang berjalan baik. Saya menunggu bus Trans Explorer hanya sekitar 5 menit. Di belakang saya sudah menanti bus Trans Explorer untuk memuat para ibu-ibu yang usai berbelanja. Jadi sangat lancar dan tidak ada kemacetan."

"Keempat, saya menyaksikan dengan mata kepala tidak ada PKL yang berdagang di trotoar seperti diberitakan media karena dilarang oleh Satpol PP."

"Kelima, kesemrawutan di lingkungan pasar Tanah Abang sudah teratasi dengan penataan yang dilakukan."

Keenam, semua PKL merasa bersyukur dengan penataan yang dilakukan karena omzet mereka dalam berdagang meningkat luar biasa dari Rp 300.000/hari sampai Rp 1,5 juta-2 juta/hari.

"Untuk masalah yang harus diatasi adalah angkot yang selama ini melintasi Pasar Tanah Abang yang menimbulkan kemacetan dan kesemrawutan luar biasa. Diperlukan dialog dan musyawarah untuk mencari solusi," terangnya. 

Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas