Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Kasus Narkoba

Ini Alasan SBY Keluarkan Grasi untuk Deni Setia

Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pengampunan (grasi) terhadap terpidana perkara narkotika Deni Setia Maharwan

Ini Alasan SBY Keluarkan Grasi untuk Deni Setia
BANJARMASIN POST/AYA SUGIANTO
Wakil Menteri Hukum dan HAM, Denny Indrayana melihat gadget Tab berisi pesanan narkoba hasil penggeledahan petugas BNP Kalsel di LP Teluk Dalam, Banjarmasin, hingga berbuntut keributan oleh para napi, Sabtu (22/9/2012) malam. BANJARMASIN POST GROUP/AYA SUGIANTO 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pengampunan (grasi) terhadap terpidana perkara narkotika Deni Setia Maharwan.

Sindikat narkotika itu batal mendapatkan hukuman mati tetapi diganti dengan hukuman seumur hidup.

Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Wamenkumham), Denny Indrayana menjelaskan pertimbangan pemberian grasi Presiden tersebut terhadap Deni.

Pertama, presiden memiliki kewenangan konstitusional untuk pemberian grasi.

"Grasi merupakan hak prerogratif presiden. Dalam pasal 14 ayat 2 UUD 1945 presiden memberikan grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung," kata Denny di Kantor Kementerian Hukum dan HAM, Jakarta, Kamis (18/10/2012).

Denny mengatakan, dalam mengeluarkan grasi, Presiden juga mempertimbangkan kemanusiaan. Pasalnya, berdasarkan hasil penelusuran, Deni Setia diketahui merupakan seorang PNS bawah yang terjerat utang dan dikejar debt collector. Dia juga merupakan istri seorang guru SMP.

"Dia juga tertangkap sebagai kurir narkoba atau korbannya. Bukan gembong atau produsen," kata Denny.

Selain itu, grasi yang diberikan kepada Deni hanya diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup. Bukan pengurangan masa hukuman.

Selanjutnya, kecenderungan dunia soal hukuman mati. Menurut Denny, ada beberapa fakta mengenai hukuman mati di dunia internasional.

Yaitu, 100 negara melarang hukuman mati untuk seluruh jenis kejahatan, tujuh negara melarang untuk kejahatan biasa, 42 negara tidak melakukan hukuman mati dalam kurun 10 tahun terakhir, lima negara menerapkan moratorium(pemberhentian sementara) hukuman mati.

Halaman
12
Penulis: Edwin Firdaus
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas