Tribun

Pelecehan Seksual

Komnas PA Buat Tim Investigasi Selidiki Guru Paksa Oral Seks

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan pihaknya akan membuat tim investigasi untuk mengusut

Penulis: Wahyu Aji
Editor: Johnson Simanjuntak
Komnas PA Buat Tim Investigasi Selidiki Guru Paksa Oral Seks
net
Arist Merdeka Sirait

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan pihaknya akan membuat tim investigasi untuk mengusut kasus mantan Wakil Kepala Sekolah sebuah SMA negeri di Jakarta Timur, yang diduga memaksa siswinya melakukan oral seks.

"Saya akan membentuk tim investigasi dua orang dari Komnas PA, satu orang dari Sudindikmenti Jakarta Timur, Kesejahteraan Masyarakat, Sudin Kesehatan Jakarta Timur dan pihak sekolah itu sendiri," kata Arist usai mendengar klarifikasi langsung dari dua orang guru tersebut, Jumat (1/3/2013).

Arist juga mengaku akan mengolah terlebih dahulu setiap informasi yang telah ia dapat. Menurutnya, keterangan kedua guru tersebut dan pengakuan korban sebelumnya akan diperiksa kebenarannya untuk menemukan benang merah persoalan tersebut.

Lebih lanjut Arist menuturkan, sesuai informasi yang didapat Komnas PA, tim dari Polda Metro Jaya dan Dinas Pendidikan DKI sebenarnya sudah mempelajari terlebih dahulu kasus ini. Namun sampai saat ini belum diketahui pasti duduk persoalan pasti mengenai pengaduan korban.

Karena itu, lanjut Arist, ia akan berusaha mengumpulkan informasi dari kedua lembaga tersebut untuk memastikan kebenaran persoalan ini.

"Polda Metro Jaya sudah memeriksa dan melakukan visum psikologis. Dari Dinas Pendidikan juga katanya sudah melakukan pemeriksaan. Semoga kita bisa dapat informasi dari dua instansi tersebut apa hasil temuan mereka," lanjutnya.

Ia menambahkan, langkah ke depan yang mesti dilakukan adalah memeriksa kedua oknum guru tersebut secara terpisah dan mendalami pengakuan korban. Menurutnya, berdasarkan temuan awal, ada konflik antara kedua guru itu dimana MA menjadi korban. Karena itu ia berharap kedua guru tersebut harus diperiksa secara mendalam.

"Apapun kebenarannya nanti, MA tetaplah korban. Dia jadi korban atas konflik dua guru ini. Itu yang sementara kita lihat," kata Arist.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas