Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Protes PP Pengupahan, Buruh Ancam Duduki Istana Besok

Wilham, mengatakan bahwa mereka akan menduduki Istana hingga tuntutan terpenuhi.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Amriyono Prakoso
Editor: Hasanudin Aco
zoom-in Protes PP Pengupahan, Buruh Ancam Duduki Istana Besok
SURYA/SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
TUNTUT KENAIKAN UMK - Massa aksi dari Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia (SPBI) Malang memegang poster dalam demontrasi di depan Balai Kota Malang, Senin (26/10/2015). Massa aksi menuntut kenaikan Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) akibat imbas inflasi. SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  -  Jumat (30/10/2015) besok, massa buruh akan kembali turun ke Istana Presiden di Jakarta untuk menolak PP Pengupahan No 78/2015 yang dianggap akan memberikan upah minimum bagi buruh.

Koordinator Serikat Buruh Transportasi Indonesia, Wilham, mengatakan bahwa mereka akan menduduki Istana hingga tuntutan terpenuhi.

"Besok saya minta, tidak ada yang mundur hingga apa yang diminta, dipenuhi oleh pemerintah, kita harus duduki istana, apapun resikonya. Siapkan diri kalian kawan-kawan," jelasnya saat menghadiri forum buruh di LBH Jakarta, Kamis (29/10/2015).

Dirinya mengingatkan kembali kepada seluruh buruh yang hadir untuk tetap berjuang karena demo besok akan dilakukan dengan waktu yang sangat panjang, hingga jika diperlukan menginap di depan istana.

"Yang punya tenda, besok dibawa. Jika tidak ada penyelesaian, kita akan menginap. Jika aparat berbuat sewenang-wenang, kita harus tetap bertahan," tambahnya.

Aksi massa tersebut menurut Wilham akan dilakukan di seluruh daerah di Indonesia dengan tujuan akan melumpuhkan berbagai kawasan Industri yang ada pada hari mogok Nasional tanggal 18-20 November 2015.

Serta mengingatkan kepada kelompok buruh yang ada di daerah untuk melumpuhkan daerah dari tanggal 2-10 November 2015 serta mengimbau kepada pemerintah untuk cepat menanggapi tuntutan buruh agar hal tersebut tidak terjadi.

Rekomendasi Untuk Anda

"Jokowi salah memilih musuh," tegasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas