Munas LDII: Gerakan Hormati Guru, Ekonomi Syariah hingga Munas Paperless
Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-8 LDII.
Penulis: Hasanudin Aco
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) akan menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-8 LDII.
Sejak berdiri pada 1972, inilah Munas LDII yang paling berbeda dibanding munas-munas sebelumnya. LDII mengharapkan munas bukan sekadar kegiatan rutin dan seremoni, namun memberikan prespektif baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Munas kali ini merupakan cermin bahwa Islam itu rahmatalil alamin, kami memberikan solusi berbagai masalah bangsa. Bagi LDII Munas bukan sekadar pertanggungjawaban pelaksanaan program, memilih ketua baru, dan menyusun arah organisasi. Munas sebisa mungkin cermin solusi atas masalah bangsa, dalam detail pelaksanaan,” ujar Prasetyo Sunaryo Ketua Panitia Pengarah Munas VII LDII di Jakarta, Senin (7/11/2016).
Prasetyo mencontohkan, penebangan hutan untuk berlembar-lembar kertas ataupun tisu, mengakibatkan keseimbangan ekosistem di bumi terganggu. Lalu muncul masalah berikutnya, pemanasan global menjadi ancaman umat manusia karena hutan yang berfungsi menyaring polusi dan menjaga suhu bumi, kian menyusut.
Solusinya, warga LDII telah melakukan gerakan masif dengan menanam 3,5 juta pohon di 12 provinsi dengan tingkat kematian 7,2 persen. Dalam setahun sekali, DPD LDII di seluruh Indonesia melaksanakan program Go Green setidaknya setahun sekali.
Gerakan penghijauan ini diterapkan pula dalam kehidupan sehari-hari dengan menanam pekarangan rumah dengan pepohonan yang bermanfaat.
“Lalu kami memikirkan Munas yang bebas kertas, sebagai kelanjutan Go Green. Semua materi pembicara, pendaftaran, dan administrasi dan kesekretariatan Munas menggunakan digital," kata Prasetyo.
Musyawarah Nasional Dewan Pimpinan Pusat LDII akan berlangsung pada 8-10 November 2016 di Balai kartini Jakarta, dengan mengangkat tema, ‘Keniscayaan Peningkatan Kualitas SDM, Kemampuan Pendayagunaan Tehnologi Digital, dan Pengembangan Ekonomi Syariah Untuk Pembangunan Indonesia Berkelanjutan."
Munas mendapat apresiasi oleh Pemerintah RI, melalui Menteri Agama Lukman Hakim saefuddin.
Apresiasi Pemerintah terhadap pelaksanaan Munasdisamping persiapan yang sangat matang, materi dan kesiapan lainya, Munas DPP LDII ini merupakan yang pertama kalinya oleh Ormas Islam, yang pelaksanaanya sudah digital alias paperless (Munas tanpa kertas).
“Ini baik sekali dan pemerintah sangat mengapresiasi Munas LDII yang paperless ini, disamping ikut menjaga ekosistem alam, tentu akan menekan biaya, ini perlu ditiru oleh ormas lain,” jelas Lukman Hakim, Menteri Agama RI saat menerima kunjungan pengurus DPP LDII dan Panitia Munas VIII, Kamis (3/11/2016) lalu.
Prasetyo mempertegas bahwa Munas LDII selain memilih ketua umum dan kepengurusan yang baru. Munas kali ini yang paling penting adalah menyerap semua keinginan dari warga untuk dijadikan amanat agar dilaksanakan oleh pemimpin berikutnya.
“Jadi bukan memilih siapa tetapi melaksanakan apa. Sehingga Munas betul betul Munas, bukan sekedar voting,terpilih ketua selesai, tetapi betul-betul menampung aspirasi dan pemikiran pemikiran untuk dilaksanakan oleh kepenurusan baru,” jelas Prasetyo.
Prasetyo menjelaskan, keberhasilan pemimpin kepengurusan yang lalu telah berhasil melaksanakan amanat membangun manusia professional relegius, sehingga munculnya lembaga pendidikan, pelatihan, FGD dan lainnya.
Berikutnya mengusulkan Munas ini berdasarkan pada hasil Focus Grup Discussion sebelumnya, (FGD) adalah Peningkatan kualitas sdm.
“Bagaimana meningkatkan SDM yang berkualitas? Yaitu gunakan gerakan sosial budaya. Yaitu gerakan menghormati guru. Karena kalau guru dihormati, dengan sendirinya guru akan merespon sehingga ia akan meningkatkan kualtas dirinya, orang yang dihargai dengan yang tidak dihargai pasti beda. Inilah ldii memberikan sebuah konstribusi untuk memperbaiki dunia pendidikan kita yang tidak menggunakan keuangan,” ujar Prasetyo Sunaryo.
Dengan cara ini tidak ada kaitan dengan anggaran pendidikan. Tetapi bisa bagaimana memperbaiki dunia pendidikan melalui gerakan social budaya. Karena memang cirikhas daripada Negara yang maju rata-rata Negara itu mesti menghormati gurunya. Mulai dari Amerika, Norwegia, Finlandia, Korea Selatan dll.
Adapun tema Munas VIII DPP LDII ini adalah “Keniscayaan Pengembangan Ekonomi Syariah, Peningkatan Kualitas SDM, dan Pemberdayaan Teknologi Digital untuk Indonesia Berkelanjutan”.
Rully Kuswahyudi, ketua OC menjelaskan, beberapa hal seperti penghormatan dan pemuliaan guru, pengembangan UMKM yang berada dalam pembinaan LDII dan penyikapan Medsos dan Tekhnologi Informasi (IT) secara arif, efektif dan efisien akan menjadi rekomendasi Munas.
Selain memilih ketua umum dan kepengurusan yang baru, Munas kali ini akan merumuskan berbagai perubahan di dalam tubuh organisasi sesuai gerak zaman.
Munas VIII yang akan diikuti oleh 1.300 peserta yang terdiri dari Unsur Dewan Penasehat DPP LDII, Pengurus Pleno DPP LDII, utusan 33 DPW Provinsi, serta 500 DPD kabupaten &kota seluruh Indonesia termasuk Pondok Pesantren. Direncanakan akan berlangsung selama 3 hari.
"Alhamdulilah, perwakilan seluruh provinsi maupun kabupaten kota di Indonesia sudah menyatakan siap untuk hadir mengikuti Munas VIII DPP LDII sebagai peserta," kata Prof. Abdullah Syam ketua Umum DPP LDII periode 2011-2016.
Syam lebih lanjut mengatakan, bahwa selain dihadiri pengurus LDII, Munas kali ini juga akan dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo.
“Sedianya Munas VIII ini akan dibuka oleh bapak Presiden RI, bapak Joko Widodo, namun karena ada agenda kenegaraan, bapak Presiden mendisposisikan kepada menteri Agama RI untuk membuka, dan beliau (bapak Presiden) akan hadir pada hari kedua,” Kata Abdullah Syam.