Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Pilpres 2019

Pengamat Nilai Prabowo Sebaiknya Mempertimbangkan Secara Matang Rekomendasi Ijtima Ulama

Untuk dapat mengimbangi elektabilitas Jokowi yang saat ini masih unggul, kubu koalisi Gerindra harus bisa membaca arah sentiment publik

Pengamat Nilai Prabowo Sebaiknya Mempertimbangkan Secara Matang Rekomendasi Ijtima Ulama
Tribunnews.com/Chaerul Umam
Prabowo Subianto saat memberikan sambutan acara Ijtima' Ulama dan Tokoh Nasional di Hotel Menara Peninsula, Jakarta Barat, Jumat (27/7/2018) malam. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif Voxpol Center Reseracrh and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, menilai sentimen publik dan tren ‎politik negara-negara berpenduduk mayoritas muslin di dunia saat ini, -termasuk Indonesia- adalah menguatnya ghirah (semangat) gelombang populisme Islam.

Di Indonesia, kata dia, populisme Islam telah merambah dinamika politik, serta mengkristal menjadi kekuatan politik baru yang dahsyat.

 ‎"Populisme Islam telah menjelma menjadi salah satu kekuatan politik, kini juga ikut memainkan peranan yang cukup strategis dalam rangka menggalang kekuatan‎, menemui momentumnya dalam pilkada DKI Jakarta pada tahun 2017 lalu," kata Pangi, dilansir Tribun Jateng, Sabtu (4/8).

Dia memberi analisis,  poros koalisi Gerindra - Demokrat - PKS - PAN, harus memperhitungkan hal ini, jika ingin meraup suara elektoral signifikan dan memenangkan pertarunan pada pemilihan presiden (Pilpres) 2019 mendatang. ‎Ijtima Ulama GNPF 212 tak bisa dipisahkan sebagai bagian dari aksi nyata gerakan ini.‎

"Rekomendasi yang dikeluarkan oleh gerakan ini menjadi pertimbangan penting, menjadikan sebagai daya tawar dan lobi (bergaining position) politik di kubu Prabowo yang semakin dinamis," ujar pengamat, yang juga dosen politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Karena itu, sambung Pangi, untuk dapat mengimbangi elektabilitas Joko Widodo (Jokowi) yang saat ini masih unggul, kubu koalisi Gerindra harus bisa membaca arah sentiment publik.

Menurutnya, mempertimbangkan sentiment publik dan gelombang populisme Islam saat ini, Prabowo harus mempertimbangkan matang-matang rekomendasi Ijtima Ulama Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF).

Diketahui, paket yang rekomendasi dikeluarkan dari Ijtima’ ulama GNPF yakni Salim Segaf Al-Jufri dan Ustad Abdul Somad (UAS).

Salim Segaf Al-Jufri adalah Ketua Majelis Syura PKS, mantan menteri Sosial era SBY dan juga pernah menjadi duta besar RI untuk Arab Saudi dan Oman. ‎

Di satu sisi, UAS telah secara tegas menolak untuk dijadikan calon wakil presiden (Cawapres).‎

Halaman
123
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas