Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

Cerita Zulkifli Hasan Soal Kesederhanan 'Founding Fathers' Bangsa Indonesia

Menurut dia, sebagai penyelenggara negara harus menyadari memimpin adalah mengabdi, bukan sekedar jalan mencari kuasa

Cerita Zulkifli Hasan Soal Kesederhanan 'Founding Fathers' Bangsa Indonesia
IST
Ketua MPR RI Zulkifli Hasan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Glery Lazuardi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Zulkifli Hasan, meminta penyelenggara negara belajar dari kisah para pendiri bangsa yang memberi keteladanan.

Menurut dia, sebagai penyelenggara negara harus menyadari memimpin adalah mengabdi, bukan sekedar jalan mencari kuasa.

"Khususnya bagi penyelenggara negara, penting kiranya belajar dari kisah para pendiri bangsa yang memberi keteladanan memimpin adalah mengabdi, bukan sekedar jalCerita Zulkifli Hasan Soal Kesederhanan 'Founding Fathers' Bangsa Indonesiaan mencari kuasa," kata Zulkifli, saat membacakan pidato di sidang tahunan MPR, Jumat (16/8/2019).

Dia menceritakan sekelumit kisah mengenai para 'founding fathers'. Cerita pertama mengenai Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

"Pasca penetapan Bung Karno sebagai Presiden pertama dalam Rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), tanggal 18 Agustus 1945, Bung Karno pulang berjalan kaki. Santapan berbuka puasanya adalah sate ayam yang dibelinya sendiri di pinggir jalan dari seorang pedagang tanpa pakaian atas, alias bertelanjang dada," ungkapnya.

Cerita kedua, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, Haji Agus Salim.

Baca: Yenny Wahid: Kehadiran Sandiaga Uno di Sidang Tahunan MPR Bukti Persatuan Bangsa

"H. Agus Salim sampai meninggal dunia tetap berstatus ‘kontraktor’. Kediamannya berupa rumah sempit di gang sempit pula masih berstatus sewa ketika beliau wafat. Kasur gulung, ruang makan, dapur, dan tempat menerima tamu di rumah kontrakannya bersatu dalam satu ruangan besar," kata dia.

"Nasi goreng kecap mentega menjadi menu favorit, khususnya ketika sedang tidak ada makanan lain yang lebih bergizi, dan tidak ada uang," Zulkifli melanjutkan.

Terakhir, cerita mengenai Mohammad Hatta.

"Hal serupa juga dilakukan Bung Hatta, sesaat setelah berhenti dari jabatannya sebagai Wakil Presiden. Bung Hatta menolak menerima uang Rp 6 juta yang merupakan sisa dana nonbujeter untuk keperluan operasional dirinya selama menjabat Wakil Presiden," kata Zulkifli.

Dia menambahkan, sepenggal kisah para Pendiri Bangsa akan terus hidup di tengah-tengah masyarakat dan patut diteladani.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Fajar Anjungroso
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas