Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Rusuh di Papua

Menkominfo Ungkap Sumber Hoaks Papua Berasal dari 20 Negara

Tetapi salah satu alamat penyebar hoaks tersebut berasal dari salah satu negara di Eropa.

Menkominfo Ungkap Sumber Hoaks Papua Berasal dari 20 Negara
Tribunnews.com/ Theresia Felisiani
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mendeteksi kanal atau tautan penyebar hoaks yang berkaitan dengan Papua berasal dari 20 negara.

"Kami mencatat 20 negara lebih yang mention-nya berasal dari negara tersebut. Tetapi belum tentu warga negara tersebut yang (mengunggah). Asalnya dari negara tersebut," ujar Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkoinfo) Rudiantara seperti Tribunnews.com kutip dari laman Kemterian Kominfo, Rabu (4/9/20190.

Menkominfo tidak menjelaskan secara spesifik alamat IP penyebar dari negara mana saja.

Baca: 6 Hotel Murah Dekat Malioboro, Tarif Menginap di Bawah Rp 150 Ribu

Tetapi salah satu alamat penyebar hoaks tersebut berasal dari salah satu negara di Eropa.

"Kebanyakan dari dalam negeri mention-nya. Tetapi juga ada dari luar negeri, salah satu negara Eropa," ujarnya.

555 Ribu Kanal

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) mengatakan penyebaran hoaks terkait gejolak di Papua banyak dilakukan melalui media sosial Twitter.

Sejauh ini, Menkominfo ‎menemukan sekitar 500 ribu URL (Uniform Resource Locator) atau alamat situs yang terdeteksi menyebarkan hoaks per 1 September 2019.

Baca: Sidang Perdana Dugaan Kepemilikan Senjata Api Ilegal Digelar 10 September di PN Jakarta Pusat

"Sekarang sampai tanggal satu (September) kemarin jumlah URL (kanal) yang digunakan untuk mengirim hoaks sudah 500 ribu lebih, yang paling banyak itu (menggunakan) Twitter," tutur Rudiantara di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Rudiantara juga mengakusudah menutup sekitar 500 ribu URL yang dipakai untuk menyebarkan informasi bohong tersebut.

Hingga saat ini meski situasi sudah beranggur kondusif, kementeriannya terus memantau aktivitas media sosial yang terkait dengan Papua.

"Jadi semua sampai 500 ribu lebih kita kumpulkan, kita minta untuk di takedown. Karena jelas bertentangan kan," imbuh dia.

Disinggung mengapa akses internet di Papua dan Papua Barat harus diblokir, padahal Kominfo memiliki kemampuan menutup URL penyebar hoaks, Rudiantara menjawab diplomatis.

Dia menyebut wilayah di Papua dan Papua Barat yang dinilai sudah aman akan dibuka kembali akses internetnya.

Baca: Setelah Iuran BPJS Kesehatan, Tarif Listrik 900 VA Juga akan Naik

Dia berharap akses internet di sebagian besar kabupaten dan kota di Papua dan Papua Barat bisa pulih secara bertahap mulai pagi ini, Rabu (4/9/2019).

Ikuti kami di
Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas