Tribun

Sejarawan: Politik Buzzer Mendegradasi Propaganda dalam Sejarah Indonesia

buzzer jauh lebih dangkal atau banal dibandingkan dengan propaganda politik dalam lintasan sejarah bangsa ini.

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
Sejarawan: Politik Buzzer Mendegradasi Propaganda dalam Sejarah Indonesia
worldpress
ilustrasi buzzer 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Sejarawan Soewarsono mengatakan politik buzzer itu jauh berbeda dari aktiviras propaganda dalam sejarah Indonesia.

Soewarsono menilai, buzzer jauh lebih dangkal atau banal dibandingkan dengan propaganda politik dalam lintasan sejarah bangsa ini.

"Politik buzzer itu dangkal, banal, tidak jelas, tidak bertanggung jaeab dan tidak akan ada implikasinya secara signifikan mengubah ke yang lebih baik," ujarnya dalam Dialog Sejarah Historia.id: Fenomena Buzzer dari Masa ke Masa, seperti disiarkan di Channel Youtube Historia, Selasa (18/8/2020).

Dia menjelaskan, politik buzzer hanya sekedar mempertontonkan praktik pemasaran atau marketing dalam menjual seseorang.

Baca: Politikus PPP: Buzzer Bayaran Lebih Memikirkan Bisnis Semata

Hal itu sangat berbeda dengan propaganda yang terjadi pada masa perjuangan kemerdekaan.

Bahkan propaganda yang disuarakan para pendiri bangsa, diantaranya Bung Karno membawa Indonesia merdeka.

"Propaganda sudah dimulai tahun belasan dengan tulisan-tulisan, gagasan. Bentunya ideologi. Itu yang akan melahirkan Indonesia," ujarnya.

"Jadi Indonesia itu produk dari agitasi dan propaganda. Tidak muncul begitu saja," jelasnya.

Propaganda kata dia, lebih pada 'perang' pikiran atau gagasan dan kelompoknya terorganisasi. Gagasan itu tentang demokrasi, politik dan lainnya.

Karena itu, imbuh dia, propaganda pasti sudah dihitung targetnya atau titik akhirnya yakni berubah atau menjadi lebih baik.

"Propaganda dan agitasi itu political project. Dan itu harus dirumuskan secara serius," ucapnya.

Sedangkan buzzer, kata dia, mendegradasi propaganda dan agitasi.

"Buzzer itu yang dijual orangnya dari tidak terkenal menjadi terkenal, dari tidak diketahui jadi diketahui bukan karena dia mengatakan sesuatu gagasan. Tapi karena dia dikatakan apa-apa," jelasnya.

Buzzer juga tidak mendatangkan perubahan bagi bangsa ini. Karena karakterisiknya yang dangkal, sekedar untuk pilkada dan pilpres.

"Menang atau tidak ya tidak penting. Seperti jualan saja, laku atau tidak tidak penting. Selesai pilkada yang satu, buzzer pindah lagi ke yang lain. Patah tumbuh hilang berganti, selesai yang 'A' pindah ke ini, selesai itu pindah lagi," ucapnya.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas