Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kementerian Agama: Akses Sanitasi Dasar di Madrasah Belum Ideal

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Ali Ramdhani mengatakan akses sanitasi dasar di madrasah masih belum ideal.

Kementerian Agama: Akses Sanitasi Dasar di Madrasah Belum Ideal
SERAMBI Banda Aceh/BUDI FATRIA
Murid MTsN 1 Model Banda Aceh shalat ashar berjamaah saat menunggu pengumuman Ujian Nasional (UN) di sekolah mereka, Sabtu (2/6). Sebanyak 82.106 siswa atau sekitar 99,39 persen dinyatakan lulus UN tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Aceh sisanya, 509 siswa lagi atau 0,61 persen tidak lulus dari jumlah total peserta 82.615 orang. (SERAMBI/BUDI FATRIA) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Muhammad Ali Ramdhani mengungkapkan akses sanitasi dasar di madrasah masih belum ideal.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ali saat peluncuran Profil Sanitasi Madrasah 2020 di Hotel Morrisey, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2020).

"Pada akses sanitasi dasar di madrasah seluruh Indonesia masih jauh dari kondisi ideal," kata Ali.

Ali mengungkapkan berdasarkan cakupan nasional untuk akses sanitasi dasar pada semua jenjang pendidikan madrasah hanya sekitar 50 persen.

"Itu berarti satu dari dua madrasah tidak memiliki fasilitas jamban yang layak," ungkap Ali.

Baca juga: Kemenag Bakal Salurkan Bantuan Subsidi Upah untuk Guru Honorer Madrasah

Baca juga: Kemenag Berikan Bantuan Paket Data Gratis untuk Siswa Madrasah yang Menjalani PJJ

Provinsi Lampung merupakan provinsi dengan akses sanitasi dasar atau jamban layak yang terbanyak yakni sebesar 63,64 persen.

Sementara, akses air dasar di madrasah relatif cukup baik.

Secara nasional akses air dasar mencapai 70 persen.

"DKI Jakarta memiliki akses air dasar yang tertinggi dengan cakupan 84,95 persen sedangkan Sulawesi Barat memiliki akses dasar yang terendah dengan cakupan hanya 43,33 persen," tutur Ali.

Sementara fasilitas sanitasi untuk siswa berkebutuhan khusus masih sangat rendah.

Satuan Tugas Operasi Pengamanan Daerah Rawan (Satgas Ops Pamrahwan) Maluku Yonif Raider Khusus 136/Tuah Sakti ikut andil mendukung dalam gerakan Pramuka yang dilaksanakan di Bumi Perkemahan Jembatan Kawanua, Negri Tehoru, Kec. Tehoru, Kab. Maluku Tengah. Kamis, (19/12/2019). Kegiatan tersebut sejak Minggu, (15 Desember 2019), diikuti oleh 275 peserta yang berasal dari enam Sekolah Madrasah se-Kec. Tehoru yaitu Madrasah Aliyah Al-Hilal, Mts Alhilal, Mts LKMD Yaputih, Min 4 Maluku Tengah, MI Asalam Wolu dan MI LKMD Lahakaba. (Puspen TNI)
Satuan Tugas Operasi Pengamanan Daerah Rawan (Satgas Ops Pamrahwan) Maluku Yonif Raider Khusus 136/Tuah Sakti ikut andil mendukung dalam gerakan Pramuka yang dilaksanakan di Bumi Perkemahan Jembatan Kawanua, Negri Tehoru, Kec. Tehoru, Kab. Maluku Tengah. Kamis, (19/12/2019). Kegiatan tersebut sejak Minggu, (15 Desember 2019), diikuti oleh 275 peserta yang berasal dari enam Sekolah Madrasah se-Kec. Tehoru yaitu Madrasah Aliyah Al-Hilal, Mts Alhilal, Mts LKMD Yaputih, Min 4 Maluku Tengah, MI Asalam Wolu dan MI LKMD Lahakaba. (Puspen TNI) (Puspen TNI/Puspen TNI)

Akses sanitasi yang disediakan untuk siswa dengan kebutuhan khusus hanya mencapai sekira 13,78 persen.

Data nasional menunjukkan bahwa hanya 55,66 persen madrasah di Indonesia yang memiliki akses terhadap sarana cuci tangan.

Sebaliknya, madrasah di Indonesia tidak memiliki sarana cuci tangan sebesar 44,34 persen, atau sebanyak 36.907 madrasah di seluruh Indonesia.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Theresia Felisiani
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas