Tribun

Mengenang Harmoko, Menteri Penerangan Pencetus Kelompencapir yang Rendah Hati dan Berwawasan Luas

Harmoko tiga kali menjabat sebagai menteri penerangan era pemerintahan Orde Baru secara berturut-turut, mulai tahun 1983 hingga 1997.

Penulis: Choirul Arifin
Mengenang Harmoko, Menteri Penerangan Pencetus Kelompencapir yang Rendah Hati dan Berwawasan Luas
Kompas/Johnny TG
Ketua MPR/DPR RI Harmoko, Wakil Ketua Ismail Hasan Metareum, Syarwan Hamid, Abdul Gafur dan Fatimah Achmad (tidak nampak) saat menggelar konferensi pers di gedung DPR/MPR RI meminta Soeharto mundur dari jabatannya sebagai Presiden RI, Senin (18/5/1998). 

Selama menjabat sebagai Menteri, dapat dikatakan Harmoko menjadi salah satu orang kepercayaan ke-2 Presiden Soeharto.

Harmoko dianggap mampu menerjemahkan gagasan-gagasan Soeharto kala itu.

Bahkan, Harmoko juga pencetus ide Kelompencapir (Kelompok Pendengar, Pembaca, dan Pemirsa) yang berfungsi untuk menyampaikan informasi dari pemerintah ke publik.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini juga sosok dibalik pembredelan Tempo, DeTik, dan Editor dengan tujuan demi kestabilan pemerintahan.

Sebagai sosok yang bergelut dengan pers, sebetulnya ia paham pembredelan sangat menyakitkan. Namun, apa boleh buat itu adalah perintah.

Soeharto Mundur
Momen saat Presiden Soeharto memberikan pernyataan terbuka mundur dari jabatan Presiden RI. (Youtube)

Menjelan Pemilihan tahun 1998, Presiden Soeharto sebetulnya sudah berniat mundur. Tapi, Harmoko tetap mendukungnya untuk melanjutkan pemerintahan.

Setelah kembali terpilih, ternyata gejolak akibat krisis moneter semakin menjadi hingga terjadi kerusuhan Mei 1998.

Hal tak terduga terjadi tanggal 18 Mei 1998. Harmoko mengeluarkan keterangan pers dan meminta supaya Presiden Soeharto mundur.

“Demi persatuan dan kesatuan Bangsa pimpinan DPR baik Ketua maupun Wakil Ketua, mengharapkan presiden Soeharto mengundurkan diri secara arif dan bijaksana,” ucap Harmoko.

Hal tersebut yang membuat ketegangan antara keluarga Cendana Soeharto dan Harmoko.

Mereka pun tidak pernah bertatap muka lagi hingga tahun 2008, Harmoko menjenguk Soeharto di RSPP dan menjadi pertemuan yang terakhir sebelum Soeharto meninggal.

Setelah tumbangnya Orde Baru (Orba) dan lahirnya Era Reformasi nama Harmoko tak muncul lagi dalam aktivitas politik.

Tak lama muncul, Harmoko mulai aktif kembali dengan dunia lamanya yakni tulis menulis.

Harmoko sesekali menulis di kolom Ngopi Pos Kota. Pada tahun 2016, Harmoko mengalami penurunan kesehatan karena kerusakan saraf motorik otak belakang.

Harmoko berjuang untuk memulihkan kesehatannya yang memasuki usianya ke-77 tahun.

Ketua DPP Partai Golkar, Dave Laksono, mengonfirmasi kebenaran kabar mantan Menteri Penerangan RI era Orde Baru, Harmoko meninggal dunia pada Minggu (4/7/2021) malam.

Dave mengatakan Harmoko wafat di RSPAD Gatoto Soebroto pada pukul 20.22 WIB.

"Innalillahi wa innailaihi rojiun telah meninggal dunia Bpk. H. Harmoko bin Asmoprawiro pada hari Minggu 4 Juli pada jam 20:22 WIB di RSPAD Gatot Soebroto," kata Dave kepada wartawan, Minggu (4/7/2021).

Harmoko di Mata Para Tokoh

Banyak tokoh dan politisi yang merasa kehilangan atas meninggalnya almarhum Harmoko.

Di mata Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Idris Laena menyebut Harmoko sebagai sosok rendah hati dan berwawasan luas

"Beliau seorang yang rendah hati dan berwawasan luas karena latar belakang  kewartawanannya. Dan sangat memegang teguh budaya Jawanya," kata Idris kepada wartawan, Senin (5/7/2021).

Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Idris Laena hadir dan mengikuti Sidang Tahunan 2020, yang diselenggarakan pada Jumat (14/8/2020).
Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Idris Laena 

Idris menyatakan Partai Golkar sangat berduka atas wafatnya Harmoko. Bagi Idris, Harmoko adalah satu di antara tokoh bangsa dan kader terbaik yang pernah dimiliki Partai Golkar.

Dia mengajak masyarakat untuk berdoa agar almarhum Harmoko husnul khatimah. "Semoga Almarhum husnul khotimah," pungkasnya.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Nurul Arifin menilai Harmoko adalah sosok pejabat legendaris.

"Harmoko is a legend," kata Nurul, Minggu(4/7/2021) malam.

Partai Golkar lanjut Nurul juga berduka atas meninggalnya Harmoko.

Menurutnya, Harmoko adalah kader terbaik yang pernah dimiliki partai berlambang pohon beringin tersebut.

"Kami berduka atas wafatnya seorang tokoh bangsa, yang merupakan salah satu kader terbaik yang pernah dimiliki Partai Golkar. Semasa hidupnya beliau pernah menjadi Ketua Umum Partai Golkar 1993-1998, Ketua DPR/MPR 1997-1999, Menteri Penerangan RI 1983-1997," ujar Nurul.

Nurul juga menyebut Harmoko sebagai seorang yang rendah hati dan berwawasan luas karena latar belakang  kewartawanannya.

"Dan sangat memegang teguh budaya Jawanya. Semoga almarhum Husnul Khotimah," ujar Nurul.

Guru dan Panutan

Wakil Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo menilai Harmoko adalah guru bagi banyak kader Golkar.

Menurutnya, perjalanan hidup Harmoko luar biasa, pernah Menjadi Menteri Penerangan era Orde Baru dan pernah menjadi Ketua MPR pada masa pemerintahan B.J Habibie.

"Harmoko adalah politikus senior, guru sekaligus panutan banyak kader Partai Golkar. Jujur kami semua merasa kehilangan," ujarnya.

Jejak Karier Harmoko:

Wartawan dan Kartunis Harian Merdeka (1960)

Wartawan Harian Angkatan Bersenjata (1964)

Wartawan Harian API (1965)

Pemred Harian Merdiko (1965)

Pendiri Harian Pos Kota (1970)

Pemimpin dan Penanggung Jawab Harian Mimbar Kita (1966-1968)

Menteri Penerangan Indonesia (1983-1997)

Ketua Umum Golkar (1993-1998)

Ketua DPR RI (1997-1999)

Ketua MPR RI (1997-1999)

Laporan: Garudea Prabawati/Chaerul Umam/Willy Widianto/Tribun Manado

  Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas