Tribun

Penangkapan Terduga Teroris

MUI Pastikan Penangkapan Terhadap Teroris Bukan Bentuk Kriminalisasi Ulama atau Islamophobia

segala bentuk terorisme yang dilakukan oleh seorang kiayi atau ulama sekalipun bukan merupakan sebuah bentuk kriminalisasi ulama.

Penulis: Rizki Sandi Saputra
Editor: Johnson Simanjuntak
MUI Pastikan Penangkapan Terhadap Teroris Bukan Bentuk Kriminalisasi Ulama atau Islamophobia
Rizki Sandi Saputra
Sekretaris Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI) M Najih Arromadloni bersama Kabag Penum Divisi Humas Mabes Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan di Gedung Divisi Humas Mabes Polri, Kamis (25/11/2021). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan, akan bekerja sama dengan Kepolisian Republik Indonesia serta pemerintah untuk memberangus kegiatan dan aktivitas terorisme di Tanah Air.

Hal itu disampaikan langsung oleh, Sekretaris Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI) M Najih Arromadloni, setelah seorang anggota MUI Pusat yang menjabat di Komisi Fatwa ditangkap Densus 88.

"MUI mendukung dan mengapresiasi Densus 88 dalam kinerja penanggulangan radikal terorisme," kata Najih saat konferensi pers bersama tim Densus 88 Anti-teror Polri di Gedung Divisi Humas Mabes Polri, Kamis (25/11/2021).

Lebih lanjut, pria yang karib disapa Gus Najih itu mengatakan kalau, segala bentuk terorisme yang dilakukan oleh seorang kiayi atau ulama sekalipun bukan merupakan sebuah bentuk kriminalisasi ulama.

Bahkan kata dia, itu tidak ada kaitannya dengan ajaran agama apapun termasuk Islam.

Ahmad Zain An-Najah
Ahmad Zain An-Najah (YouTube/Rohis Al-Mahkamah)

Penanganan terorisme yang dilakukan tim Densus 88 Anti-teror Polri belakangan ini kata Najih merupakan sebuah bentuk pengamanan negara.

Baca juga: Bamsoet Pastikan MUI Tak Bakal Dibubarkan

"Dalam kaitan ini kami percaya tidak ada yang disebut kriminalisasi ulama atau islamophobia karena ini kepentingan negara adalah menjaga keamanan, menjaga keselamatan rakyat, dan dalam hal ini kami memberikan dukungan dan apresiasi," beber Najih.

Lebih jauh, Gus Najih mengatakan, kasus yang menjerat anggota komisi Fatwa MUI yakni Ahmad Zain An-Najah tersebut akan dijadikannya bahan evaluasi oleh MUI Pusat.

Upaya yang akan dilakukan satu di antaranya dengan lebih berhati-hati saat melakukan perekrutan di masa mendatang, sebab kata dia, faham radikalisme itu ada namun tak dapat selalu termonitor.

"Karena sebagaimana diketahui aktivitas terorisme memang sangat ada di bawah tanah, sehingga kami di MUI pun tanpa ada informasi dari aparat kami tidak mengetahui aktivitasnya di luar MUI," tukasnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas