Tribun

Kasus Bahar Bin Smith

Teror 3 Kepala Anjing di Ponpes Bahar Smith: Respons Kuasa Hukum hingga Pakar Sebut Ada Pesan Maut 

Ponpes milik Habib Bahar di Bogor dapat kiriman paket berisi 3 kepala anjing dalam sebuah kardus, kuasa hukum dan Pakar Psikologi Forensik bersuara.

Editor: Theresia Felisiani
zoom-in Teror 3 Kepala Anjing di Ponpes Bahar Smith: Respons Kuasa Hukum hingga Pakar Sebut Ada Pesan Maut 
Tribun Bogor/istimewa
Habib Bahar bin Smith 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin milik Habib Bahar bin Smith yang
berada di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mendapat kiriman paket berisi tiga kepala anjing dalam sebuah kardus.

Kuasa hukum Habib Bahar, Aziz Yanuar mengatakan paket itu dikirim ke pesantren
milik Habib Bahar pada Jumat (31/12) dini hari.

"Benar, teror itu" ujar Aziz ketika dihubungi.

Dalam video dan foto yang beredar, diketahui ada tiga kepala anjing yang sudah
dipotong dari badannya.

Semuanya dimasukkan ke dalam kardus hingga akhirnya diketahui para penghuni di sana.

Ketika ditanya apakah insiden ini sudah dilaporkan ke polisi, Aziz menjawab itu tidak
perlu.

"Sudah dilaporkan ke Allah SWT," ujarnya.

Baca juga: Diteror Tiga Kepala Anjing, Kuasa Hukum: Tidak Ada Penjagaan Khusus di Ponpes Habib Bahar Bin Smith

Baca juga: Polisi Diminta Usut Tuntas Kasus Teror Kepala Anjing yang Dikirim ke Ponpes Milik Bahar Bin Smith

Aziz Yanuar juga mengatakan, pihaknya tidak akan melakukan persiapan khusus untuk
mengawal penjagaan di area pondok pesantren.

Dia menyebut, pihak pondok pesantren tidak akan melakukan respons yang berlebihan terkait hal tersebut.

"Biasa saja, sama pengecut tidak perlu berlebihan,"kata Aziz.

Tak hanya itu, pihaknya meminta Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk mengusut
tindakan dugaan teror tersebut.

"Bahwa kami meminta kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas tindakan teror yang
dilakukan di kediaman HBS (Habib Bahar Smith) di Ponpes Tajul Alawiyyin," katanya.

Aziz menduga, kejadian ini dilakukan oleh pihak yang turut terlibat dalam aksi penembakan yang menewaskan 6 anggota eks Laskar Front Pembela Islam (FPI) di ruas jalan tol Jakarta-Cikampek pada Desember 2020 silam.

Kata dia, aksi tersebut merupakan bentuk ancaman yang sekaligus menebar ketakutan sehingga patut disebut kegiatan teror.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas