Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 16:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Pentingnya Moderasi Beragama dan Kebangsaan Bagi Kalangan Millenial

Moderasi agama adalah suatu kebutuhan di tengah krisis humanisme dan radikalisme.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Toni Bramantoro
Editor: Adi Suhendi
zoom-in Pentingnya Moderasi Beragama dan Kebangsaan Bagi Kalangan Millenial
Istimewa
Webinar nasional Moderasi Beragama dengan tema Moderasi Beragama dan Kebangsaan Bagi Kalangan Millenial. 

Itu bukan hanya di masyarakat umum, tetapi juga di kementrian agama.

Ini juga bahkan terjadi di Forum Kerukunan Umat Beragama.

"Jadi mereka bertoleransi itu hanya di fisik, tetapi di pikirannya tetap berperang. Jadi mereka masih menganggap benar sendiri dan yang lain salah," kata Ken.

"Kita ini jujur saja, kita kurang duduk bersama sehingga salah persepsi. Misal, banyak orang mengatakan Tuhan Hindu itu ada banyak ada 3, tetapi ketika kita duduk kepada penganut aslinya, maka di sana ternyata hanya ada satu Tuhan. Ini salah," tutur Ken Setiawan.

Kemudian, terangnya, ada pandangan masyarakat yang sepertinya keliru.

Bahwa yang disebut radikal adalah jenggot, padahal bukan.
Radikal itu keinginan mengubah sesuatu untuk meruntuhkan sistem negara dan menggantikannya dengan sistem lain secara keseluruhan dengan cara kekerasan.

Ada juga yang terjadi, masyarakat kurang memahami kenapa orang-orang radikal juga tidak ditangkapi.

Rekomendasi Untuk Anda

Padahal, harus mengerti bahwa proses itu semua regulasinya belum lengkap.

Mungkin bentuk-bentuk ormasnya sudah bisa ditangani, tetapi lebih jauh belum.

"Bayangkan, ada riset mengatakan bahwa pelajar 23,3% pelajar kita sudah setuju dengan pengubahan negara islam. Ada mahasiwa dengan angka yang tak jauh, kemudian disusul oleh pegawai hingga aparat. Itu parah. Bahkan bukan lagi terpapar, tapi tertangkat," jelasnya.

Soal penyebaran hoaks, ujaran kebencian terhadap pemerintah dan kelompok lain, itu juga penting.

Karena semua informasi hoaks dan adu domba tersebar di sini.

"Yang waras harus bergerak. Mereka itu padahal sedikit. Kita majority silent dan diam. Mereka itu sedikit, tetapi bekerja 24 jam. Makanya, sekali lagi kita semua harus lebih giat agar generasi kita bisa kembali lagi ke ahlusunnah wal jamaah," ujar Ken.

Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas