Anggota Komisi VI DPR Eko Patrio Sebut PGEO Punya Peran dalam Transisi Energi Bersih & Berkelanjutan
Eko Patrio mengatakan peran Pertamina Geothermal Energy (PGEO) dalam Proses Transisi Energi Bersih dan Berkelanjutan sangat penting.
Penulis: Malvyandie Haryadi
Editor: Hasanudin Aco
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI, Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio mengatakan peran Pertamina Geothermal Energy (PGEO) dalam Proses Transisi Energi Bersih dan Berkelanjutan sangat penting.
PGEO adalah salah satu anak perusahaan BUMN yakni PT Pertamina.
Selain mereka menjual bensin atau LPG, PT Pertamina juga punya pembangkit listrik dari energi panas bumi melalui Pertamina Geothermal Energy (PGEO).
"Indonesia punya banyak gunung berapi yang aktif dan masuk di dalam cincin api (ring of fire). Tentunya hal ini memiliki manfaat karena punya energi baru terbarukan yang dapat dimanfaatkan berupa panas bumi," ucap Eko Patrio yang juga Sekretaris FPAN DPR RI dalam kegiatan sosialisasi di Jakarta, Jumat (22/9/2023).
"Energi ini kemudian diolah oleh Pertamina menjadi listrik yang dialirkan ke rumah," sambungnya.
Eko mengungkapkan PGEO saat ini sudah memiliki pengalaman panjang sejak 2006 dan saat ini memiliki 40 persen sumber geothermal di dunia, termasuk dengan kualitas yang bagus berada di Sumatera dan Jawa.
"Pertamina melalui PGEO menjadi BUMN yang terdepan dalam pemanfaatan energi baru terbarukan. Bahkan, termasuk perusahaan geothermal terbesar di Indonesia," terang Eko.
Baca juga: Indonesia Fokus Transisi Energi, Menteri ESDM Sebut Pengeboran Sumur Migas Baru Masih Diperlukan
Eko kembali mengungkapkan, area operasi PGEO terdiri dari 13 wilayah kerja mulai dari Kamojang, Karaha, Lahendong, Gunung Sibualu-Buali, Gunung Sibayak-Sinabung, Sungai Penuh, Hululais, Lumut Balai & Margabayur, Way Panas, Pangalengan, Cibereum-Parabakti, Tabanan, Seulawah.
Selain itu, kata Eko, PGEO telah berinvestasi dalam teknologi canggih dan inovasi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas.
"Mereka berupaya untuk mengoptimalkan proses ekstraksi panas bumi, penggunaan sumber daya, dan pengurangan limbah. Ini sesuai dengan arahan Presiden agar Indonesia mulai bertransisi menuju penggunaan energi baru terbarukan," papar Eko yang juga Ketua DPW PAN DKI Jakarta itu.
Lebih lanjut Eko mengatakan, berdasarkan laporan Asian Development Bank (ADB), potensi sumber daya energi panas bumi Indonesia mencapai 29 ribu MW (MegaWatt) di mana kapasitas tenaga panas bumi Indonesia baru mencapai 2.276 MW.
"Dengan angka tersebut saja, Indonesia saat ini berada di peringkat kedua tertinggi di dunia, di bawah Amerika Serikat (AS) yang punya kapasitas 3.722 MW. Jadi kita mengetahui bahwa panas bumi ini sangat potensial sebagai alternatif energi terutama untuk listrik di Indonesia," ucapnya.
Dari segi saham, kata Eko menambahkan, perusahaan ini juga terus menanjak nilai sahamnya.
"Saham PGEO telah melonjak 33 persen sejak IPO di Februari 2023 lalu. Ini menandakan bahwa pasar dan masyarakat percaya terhadap perusahaan ini," ujarnya.
Diketahui, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) telah melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2022. Pemegang saham menyetujui penggunaan laba bersih untuk dividen sebesar 100 juta dolar AS atau Rp1,5 triliun. Total dividen tersebut termasuk dividen interim sebesar 70 juta dolar AS.
"Jadi, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa PGEO ini merupakan BUMN yang berhasil dan untung karena mencatatkan laba dan menyetor dividen kepada negara dan masyarakat," katanya.
Eko mengatakan, PGEO merupakan perusahaan BUMN yang ambisius dalam memanfaatkan energi panas bumi.
"Tahun ini, PGEO banyak melakukan aksi korporasi. PGEO berencana untuk membeli unit panas bumi milik KS Orka Renewables senilai hingga US$ 1 miliar," ungkapnya.
Selain itu, kata dia, PGEO juga menandatangani perjanjian awal dengan dua perusahaan Kenya untuk menjajaki kemitraan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi yang jika digabungkan bisa bernilai US$ 2,2 miliar.
"Sorik Marapi, yang terletak di Kabupaten Mandailing Natal di Sumatera Utara, merupakan salah satu proyek panas bumi terbesar yang sedang dikembangkan di Indonesia dengan kapasitas hingga 240 megawatt," terang Eko.
Eko juga berharap agar PGEO ini dapat mengurangi penggunaan batu bara yang menjadi salah satu penyebab polusi saat ini.
"Saya melihat PGEO ini juga cukup berdampak kepada masyarakat sekitar pembangkit listrik. Misalnya di wilayah operasi PGEO Lumut Balai, Sumatera Selatan, dengan membuat program pelatihan kemandirian untuk objek wisata termasuk program budidaya bagi petani kopi dan durian."
Eko berjanji dalam kegiatan sosialisasi ini dirinya akan menyampaikan aspirasi dari masyarakat kepada Kementerian BUMN.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.