Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Prakerja dan Asa Perempuan di Tapal Batas Negeri

Wendriaty Laune Mangole (34) menceritakan kisahnya untuk bisa berdaya demi perbaikan nasib orang tuanya.

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Ashri Fadilla
Editor: Adi Suhendi
zoom-in Prakerja dan Asa Perempuan di Tapal Batas Negeri
Tribunnews.com/ Ashri Fadilla
Wendriaty Laune Mangole, Alumni Prakerja Talaud. Ia menceritakan perjuangannya dalam menggapai kehidupan yang lebih baik. 

Pelatihan yang diambilnya saat itu tentang Microsoft Excel pada Gelombang ke-15 Prakerja.

Bukan tanpa alasan, topik tersebut diambil lantaran kebutuhan untuk seleksi menjadi admin sekolah di desanya.

Berbekal pelatihan tersebut, dia lolos seleksi dan dikontrak dengan status tenaga harian lepas (THL) pada April 2021.

"Gelombang 12,13,14 tes tidak lulus, yang lulus gelombang 15. Setelah ikut pelatihan itu ternyata ada penerimaan THL dari Pemprov Sulawesi Utara. Pelatihannya enggak lama sih, satu bulanan," ujar Wendri.

Sebelum Microsoft Excel, dia juga pernah mengikuti pelatihan Bahasa Mandarin untuk Pemula serta pelatihan Meracik Kopi.

Pelatihan Meracik Kopi dipilihnya karena rasa penasaran.

Sedangkan pelatihan Bahasa Mandarin dipilih karena terdorong oleh pengalamannya selama menempuh jenjang pendidikan Strata-2.

Rekomendasi Untuk Anda

"Kebetulan waktu kuliah 2019 saya curi-curi, jalan-jalan ke Malaysia, saya ketemu orang Cina. Jadi kalo orang Cina itu kan susah Bahasa Inggrisnya, hanya pakai Bahasa Mandarin. Makanya saya mau ikut pelatihan Bahasa Mandarin supaya saya bisa komunikasi dengan teman," katanya.

Meski banyak pertentangan pada awal perjalanan, asa untuk menjadi perempuan berdaya tetap dirawatnya.

Hasilnya, kini keluarga dan lingkungan sekitarnya mendukung perjuangannya untuk terus mengabdi kepada tanah air.

Dengan mantap, ibu tiga anak itu berprinsip tak seorangpun bisa menghalangi tekadnya.

"Jadi saya itu mau buktikan kalau anak petani bisa kuliah S2, bisa jalan-jalan ke luar negeri biar memotivasi anak-anak di kampung. Walaupun saya sudah berkeluarga, sudah punya tiga anak, tapi saya punya cita-cita dan saya tidak akan mengalah dengan siapa pun yang bilang saya tidak bisa melalui itu," ujarnya.

Bahkan ke depannya, ia berniat untuk melanjutkan pendidikan formal ke jenjang Strata-3 di India.

Beasiswa dari Pemerintah India, yakni Indian Council for Cultural Relation (ICCR) pun diincarnya untuk menimba ilmu di bidang sejarah.

Alasannya sederhana, ingin membuktikan bahwa kampung halamannya merupakan desa tertua di Talaud.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Atas