Mahasiswa Marah saat Sudaryono, Nusron, dan Budiman Dialog di UGM, PDIP: Wajar, Acaranya Propaganda
PDIP menilai mahasiswa UGM marah saat Budiman, Sudaryono, dan Nusron menjadi narasumber dalam satu acara. PDIP anggap acara itu propaganda.
Penulis:
Yohanes Liestyo Poerwoto
Editor:
Nanda Lusiana Saputri
"Tak lupa Budiman "Sang Pengkhianat Reformasi" Sudjatmiko, Kepala Badan Pengentasan Kemiskinan, menhilang ketika kami ingin mempertanyakan nasib rakyat miskin dan termarjinalkan," ujarnya.
SEMA UGM menegaskan apa yang dilakukan dalam forum tersebut menjadi wujud perjuangan mahasiswa agar Pancasila tidak digunakan hanya untuk pemanis dalam forum-forum resmi.
Mereka juga mengungkapkan alasan sampai ribut di forum tersebut buntut pernyataan Sudaryono, Nusron, dan Budiman, yang kompak menantang publik untuk mengkritik secara langsung dan bukan dilakukan hanya di sosial media.
"Jika pemerinrtah terus merampas keadilan dan membiarkan perut rakyat kelaparan, jangan salahkan publik jika kesabaran ini habis. Jangan terkejut, jika dalam waktu dekat REVOLUSI menjadi satu-satunya jalan keluar," pungkasnya.
Baca juga: Diskusi Menteri Nusron, Wamen Sudaryono dan Budiman Sudjatmiko di UGM Berakhir Ricuh
Klarifikasi Sudaryono
Sudaryono pun buka suara pasca insiden keributan yang terjadi pada Senin malam kemarin.
Ia mengungkapkan kedatangannya bersama dengan Nusron dan Budiman murni untuk berdialog dengan mahasiswa secara terbuka.
"Kami datang ke UGM memang untuk berdiskusi. Acara ini sudah direncanakan sejak lama dan telah mendapat izin dari pihak kampus. Ini juga bukan kegiatan pertama semacam ini," ujar Sudaryono.
Menurutnya, para narasumber telah membuka ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk bertanya maupun mengkritik kebijakan pemerintah dalam forum tersbeut.
"Ditanya apa saja tidak masalah. Dihadili seperti apa saja juga tidak masalah. Kami hadir untuk berdialog secara demokratis," katanya.
Dia menjelaskan insiden terjadi ketika acara telah berjalan sekitar 40 menit. Kemudian, keributan pun tak terelakan setelahnya.
"Kami sempat berdiskusi sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan. Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog," ungkapnya.
Ia mengaku tetap bertahan di lokasi bersama Nusron Wahid karena meyakini dialog merupakan jalan terbaik untuk menyelesaikan perbedaan pandangan.
Namun situasi disebut semakin memanas setelah terjadi pelemparan air dan dugaan tindakan fisik.
"Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," ujarnya.
Baca juga: Profil Nusron Wahid Dievakuasi dari Diskusi Ricuh di UGM: Ditanya Terkait Alih Fungsi Lahan di Papua
Sudaryono membantah dirinya dan rombongan meninggalkan lokasi setelah insiden tersebut.